Anak Linglung Sepulang Merantau, Istri Ketularan, Temu Butuh Bantuan

Sekitar 23 tahun silam, Winarni (45) yang baru pulang merantau di Ibukota bersikap aneh. Dia mulai linglung, tertawa dan berbincang sendiri. Berbagai upaya penyembuhan dilakukan, tetapi justru sang Ibu mengalami hal serupa.

Oleh Sigit Dedy Wijaya 27 Oct 16:47
image Temu dan istrinya yang hanya terbaring di tempat tidur (sumber: Halopacitan/Sigit Dedy Wijaya)

Halopacitan, Arjosari— Jumatin hanya berbaring saja di sebuah tempat tidur di samping ruang tamu, tatapan matanya kosong seperti orang melamun. Sementara putrinya, Winarni yang merupakan anak nomor dua, terlihat hanya terduduk di sebuah bangku di ruang dekat dapur, kadang terlihat tertawa, kadang juga melamun.

"Sebelumnya, Istri saya [Jumatin] tidak stres, ketika anak pulang dari merantau kondisinya seperti itu kemudian Istri tiba-tiba ketularan linglung, ngobrol sendiri, ketawa sendiri dan sampai sekarang tidak sembuh-sembuh," ujarnya kata Muntalib (70) yang juga ayah Winarni Sabtu (27/10/2018).

Warga RT 10 RW 05 Dusun Mujing Desa Borang Kecamatan Arjosari yang biasa dipanggil Temu tersebut menceritakan pada awalnya ia telah melarang anaknya merantau, tetapi karena sang anak terus bertekad mau tidak mau orang tua pun mengiyakan, meski setiap hari harus diwarnai debat dengan anaknya.

"Dulu itu saya tidak sejutu Win merantau ke Jakarta. Sebenarnya pulang merantau yang pertama itu tidak apa-apa masih normal, itupun juga saya nasehati lagi ‘mbok wis ning omah wae nduk orasah lungo" [di rumah saja nak tidak usah merantau] tapi dijawabnya "yo balik Pak ditunggu Ibu ning kana" [ya balik Pak ditunggu Ibu di sana], tahu-tahu sepulang dari merantau yang kedua ya seperti ini kondisinya," terangnya.

Hingga saat ini, perawatan untuk istri dan anaknya sudah ditangani oleh petugas di Puskesmas Kedungbendo, seperti pemberian obat rutin maupun suntik. "Alhamdulillah bantuan dari kesehatan, sosial dan lainnya juga sudah ada. Ya hanya berharap bisa segera sembuh saja," ucapnya lirih.

Di usia yang tidak muda lagi, tidak mudah bagi Temu untuk menjalaninya, terlebih ia hanya memiliki dua anak, yang satu merantau di Surabaya yang nomor dua mengalami gangguan kejiwaan, mau tidak mau ia pun harus pasrah dengan keadaan yang dialaminya.

Dengan sabar, setiap hari Temu merawat istri dan anaknya, mulai dari menyiapkan makan, menjaga kebersihan rumah, pakaian dan sebagainya. Namun, ia pun mengaku jika sekarang sudah tidak mampu lagi untuk bekerja mencari nafkah, sedangkan untuk makan hanya dikasih oleh warga setempat, walaupun terkadang ia sempatkan memasak sendiri ketika ada bantuan beras baik dari pemerintah maupun para dermawan.

"Kerja sudah tidak sanggup, karena siang-malam harus momong anak saya yang sering keluar ke jalan raya, kalau tidak diikuti takutnya jalan ke mana-mana. Kalau dulu masih kuat bisa sambil kerja cari batu kali," katanya.

Hal tersebut dibenarkan beberapa warga setempat. Katno salah satunya, ia mengatakan bahwa apa yang dialami Temu memang benar adanya. Bahkan apa yang dikatakan temu terkait kebutuhan makan sehari-hari hanya pemberian warga itu juga dibenarkan.

"Benar, kalau untuk makan maupun sembako warga ya memberi sekadarnya saja. Bahkan saya sering menjumpai Win di pinggir jalan raya, kalau ditanya mau kemana Win ? katanya mau lihat motor dan mobil yang lewat di jalan raya, tetapi kalau istrinya sudah lama tidak keluar rumah," ujarnya.

Senada Eko Darmanto, Ketua RT 10 RW 05 Dusun Mujing, Desa Borang mengatakan bahwa sangat memahami apa yang dialami oleh Temu. "Karena usianya sudah tidak muda lagi, sebagai tetangga kami juga punya rasa sosial dan warga di sini pun saling membantu sekedarnya saja, baik sembako maupun lainnya," katanya.

img

Nyambung Paseduluran, Sebuah Nilai Agung Milik Wong Pacitan

Badai Siklon Cempaka yang telah melanda Kabupaten Pacitan telah membuka mata kita semua. Bencana yang meluluhlantakkan kabupaten di Jawa Timur ini nyatanya semakin membuktikan satu budaya masyarakat: Nyambung Paseduluran (menyambung persaudaraan).