Banyak Kejutan di Dapil Jatim IX, Putra Bupati Pacitan Lolos ke DPRD Jatim

Hasil rekapitulasi pemilihan legislatif untuk DPRD Jatim dari daerah pemilihan (Dapil) Jatim IX yang meliputi Pacitan, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, dan Magetan memunculkan sejumlah kejutan dan figur baru.

Oleh AZ 12 May 13:32
image Ilustrasi (sumber: Istimewa)

Halopacitan, Surabaya—Dapil ini memperebutkan 12 kursi untuk DPRD Jawa Timur. Dari jumlah tersebut PDI Perjuangan memperoleh tiga kursi. Padahal pada 2014 partai ini hanya mendapatkan satu kursi.

Selain PDI Perjuangan, Partai Nasional Demokrat (NasDem) yang pada 2014 tidak mendapatkan kursi, kali juga membuat kejutan dengan memperoleh dua kursi. Satu direbut Mirza Ananta, mantan anggota DPRD Samarinda, Kalimantan Timur yang sebelumnya berada di Fraksi Gerindra.

Sedangkan Partai Demokrat, sebagaimana dilaporkan Surya Malang. mempertahankan dua kursi di DPRD Jatim yang diisi Sri Subiati dan Eko Prasetyo Wahyudiarto. Eko Prasetyo yang juga putra Bupati Pacitan, Indartato ini melenggang ke DPRD Jatim berstatus debutan dengan menyandang peraih suara terbanyak dari Kabupaten Pacitan yakni 64.182 suara.

Selain Eko Prasetyo, Fraksi Golkar juga mengirimkan wajah baru di dapil ini. Sekretaris DPD Golkar yang juga Ketua Fraksi Golkar di DPRD Jatim, Sahat Tua Simandjuntak sukses meraih kursi keempat dari dapil ini dengan menjadi peraih suara terbanyak di partainya. Sebelum Sahat menjadi anggota DPRD Jatim dari dapil Surabaya-Sidoarjo.

Namun, dari beberapa petahana, ada pula yang gagal lolos di DPRD Jatim kali ini. Misalnya saja Suli Da’im, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim dari Fraksi PAN. Meskipun menjadi caleg dengan suara terbanyak di partainya, Suli gagal lolos setelah suara partainya baru mencapai 3,81 persen suara.

Alila Bachsin, adik Arumi Bachsin sekaligus adik ipar dari Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak ini mengumpulkan suara terbanyak kedua di partainya, berada tepat di bawah Suli Da’im.

 

 

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.