Batu Gunung di Kedalaman 13 Meter Memupus Harapan Purwanto

Beberapa kali Purwanto menengok ke dalam lubang sumur yang sudah hampir sebulan dia gali. Tak ada air yang dia temui sampai akhirnya dia menyerah. “Batu gunung keras memupus harapan saya,” kata laki-laki berusia 35 tahun itu dengan nada lemas.

 

Oleh Eko Prasetyo 20 Oct 19:02
image Sumur yang digali Purwanto (sumber: Halopacitan/Eko Prasetyo)

Halopacitan, Pacitan—Warga Dusun Siwalan, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan ini berharap bisa mendapatkan sumber air yang deras. Dia ingin memupus masalah kekurangan air setiap musim kemarau.

Maka dengan penuh semangat dia mulai menggali lubang dengan diameter sekitar satu meter tersebut. Setiap hari seluruh kekuatan dia kerahkan. Tak peduli panas, tak peduli peluh terus bercucuran, dia terus menembus bumi.

 “Saat menggali di kedalaman dua meter, bebatuan  telah terlihat, menghambat penggalian sumur kami,”  ucap Purwanto saat ditemui Halopacitan, Sabtu (20/10/2018).

Tetapi tak ada putus asa. Hari demi hari dia dan rekannya terus berjuang keras. Hingga tibalah di hari ke-27 ketika dia membentur sebuah batu hitam yang sangat keras. Sulit sekali untuk memecah batu tersebut.

“Batu gunung keras memupuskan harapan saya untuk menemukan sumber air, membuat semangat saya padam seketika,” ceritanya. Padahal kedalaman sudah mencapai 13 meter.

Semua benar-benar sia-sia. Bahkan sekarang tugas baru menantinya yakni menutup lubang sumur yang telah susah payah dia gali dengan penuh harapan tersebut.

”Lubang itu terlanjur tergali, perlu waktu lama untuk menutupnya kembali, untuk mencegah hewan terperosok, sementara saya tutup dengan keranjang bambu,” tambahnya.

Selain tenaga dan waktu Purwanto juga telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit “Total biaya yang kami keluarkan sekitar Rp1 juta, beli cangkul,  tambang, kerekan dan sebagainya, belum lagi konsumsi selama hampir 30 hari” kata Endang (31) ,istrinya.

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.