Bencana 28 November Menyatukan Warga di Perantauan

Tidak ada yang menginginkan bencana, tetapi juga tidak ada yang mampu menolaknya. Ketika keputusan Tuhan datang, yang bisa dilakukan hanyalah menerima dan menjalaninya. Tetapi selalu ada hikmah dari setiap bencana yang datang.

Oleh Editor 05 Dec 12:21
image Ketua BSMI Pacitan, Erwin Hadi Kusuma menyerahkan bantuan kepada korban banjir. Rekening BSMI menerima donasi hingga Rp59 juta dari masyarakat yang disalurkan kepada korban banjir di Pacitan (sumber: IST)

Halopacitan,Tangerang –  Lebih dari dua hari Fahrur Rozi tidak bisa tidur di rumahnya dikawasan Tangerang, Banten. Berbagai foto dan video banjir serta longsor di Pacitan yang tersebar di berbagai laman media sosial membuatnya gusar dan kebingungan. Apalagi selama dua hari sejak banjir besar melanda Pacitan pada 28 November lalu seluruh kontak telepon ke Pacitan terputus.

“Saya hanya bisa menangis melihat foto-foto banjir yang begitu mengerikan. Orang tua dan saudara banyak di Pacitan dan tidak bisa dihubungi. Siapa yang bisa tenang melihat bencana begitu besar terjadi di kampung halaman,” tutur perantau asal Arjosari ini ke halopacitan, Jumat (1/12).

Penantian pengusaha ayam potong ini terhadap kabar keluarganya baru terjawab Jumat pagi. “Alhamdulillah orangtua dan saudara selamat, meski jalan menuju desa saya hancur dan terputus. Saya akan segera pulang,” ujarnya menambahkan.

Fahrur tak sendiri. Puluhan ribu perantau asal Pacitan juga mengalami situasi yang sama. Apalagi banjir besar yang terjadi di Pacitan merendam lebih dari 3.000 rumah di 4 Kecamatan. Itu belum termasuk puluhan rumah, jalan-jalan yang hancur dan terputus oleh longsor.

Dwi Cahyo Agus Setiawan, perantau asal Nawangan mengaku sedih dan kaget dengan bencana dahsyat di Pacitan. Tak ingin larut dalam kesedihan, DC Agus, panggilan Pria yang bekerja di Fakultas Kedokteran Undip Semarang ini, lantas berinisiatif membuka rekening donasi untuk membantu korban di Pacitan.

“Alhamdulillah respon teman-teman sangat cepat dan banyak bantuan yang datang. Dana yang masuk sudah saya salurkan melalui Griya Amanah di Pacitan. Semoga bantuan ini bisa meringankan beban saudara-saudara kita di kampung,” ujarnya ke halopacitan via telpon.

DC Agus juga bilang, Arek Pacitan (Arpac), sebuah perkumpulan warga Pacitan di perantauan, Cabang Semarang juga menggalang donasi dari berbagai masyarakat. “Bencana telah menyatukan warga Pacitan,” katanya.

Ar

Joko Sutejo, pegawai departemen kehakiman di Madiun juga langsung tergerak setelah melihat banjir besar menenggelamkan Pacitan. “Bersama saudara dan teman-teman di Madiun kami mengumpulkan donasi dan barang-barang yang bisa diberikan kepada korban banjir di Kampung. Alhamdulillah banyak bantuan yang datang dan sudah diserahkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” kisahnya.

Besarnya respon masyarakat terhadap bencana Pacitan juga disampaikan Erwin Hadi Kusuma, Ketua Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Kabupaten Pacitan. Sejak tanggal 28 November saat terjadi bencana, dana yang mengalir ke rekening BSMI sudah mencapai lebih dari Rp 59 juta.

“Kami bersyukur masyarakat Pacitan, baik yang di kampung halaman dan di perantuan, bersatu padu menghadapi bencana. Dan memang beginilah watak asli orang pacitan, guyup rukun, rame ing gawe,” ungkapnya kepada halopacitan.  

 

 

img

Bencana 28 November Menyatukan Warga di Perantauan

Tidak ada yang menginginkan bencana, tetapi juga tidak ada yang mampu menolaknya. Ketika keputusan Tuhan datang, yang bisa dilakukan hanyalah menerima dan menjalaninya. Tetapi selalu ada hikmah dari setiap bencana yang datang.