Bubur Kentir Punung Rasanya Bikin Ketagihan

Kentir, adalah istilah Jawa yang berarti agak gila, tetapi ternyata di Punung Pacitan, istilah ini menjadi nama sebuah bubur yang rasanya cukup khas.

Oleh Sigit Dedy Wijaya 09 Feb 18:08
image Sri Hidayati, penjual bubur kentir warga Dusun Kedung Menjangan, Desa Sooka, Kecamatan Punung (sumber: Halopacitan/Sigit Dedy Wijaya)

Halopacitan, Punung—Sekilas bubur kentir ini mirip dengan jenang atau bubur sumsum. Hanya saja jika bubur sumsum hanya terbuat dari tepung beras dan diberi santan serta kuah gula jawa, bubur kentir ada 11 campuran.

Sri Hidayati, penjual bubur kentir warga Dusun Kedung Menjangan, Desa Sooka, Kecamatan Punung mengatakan bubur ini dibuat dari pati (tepung) garut, pati dan gula dari aren, ketan putih, ketan hitam, mutiara, kacang hijau, cendol dawet, santan, es dan buah.

“Kalau semuanya namanya bubur kentir, kadang orang beli kan ada yang minta semuanya, ada yang tidak pakai ini itu," katanya  Sabtu (09/01/2019).

Saat mencoba dengan paket lengkap, perpaduan dari 11 campuran tersebut rasanya memang begitu nikmat. Rasa manis gula aren cukup terasa di lidah, bahkan campuran pati dan juga ketan juga membuat bubur kentir ini memiliki ciri khas sendiri.

Harga yang ditawarkan juga sangat terjangkau oleh berbagai kalangan dan cukup murah meriah. "Bubur kentir ini pertama kali di Punung, kalau daerah lain saya tidak tahu dan buatnya tanpa bahan pengawet jadi alami. Kalau harga satu cup Rp3.000, tapi Rp2000 juga boleh," ungkap ibu dua anak tersebut.

Perempuan yang setiap hari berjualan bubur di Pasar Punung ini mengatakan modal setiap jualan Rp300.000 sampai Rp500.000 dengan pendapatan dua kali lipat, atau untung 100%.

"Setiap pasaran Pahing itu saya buat 25 kilogram, kalau dapatnya uang sekitar Rp1 juta lebih. Kalau hari pasaran biasa saya buat sekitar 12-15 kilogram, karena sepi," bebernya di sela-sela melayani pembeli pada Festival Jajan Tradisional di Punung.

Bubur kentir (Halopacitan/Sigit Dedy Wijaya)

Beberapa pembeli mengaku cukup ketagihan dari rasa yang ditawarkan bubur kentir, Adi salah satunya, ia mengaku sudah menjadi langganan tetapnya.

"Hampir setiap hari mampir Bu Sri, kadang juga kehabisan, biasanya dua porsi makan sini, dua porsi bawa pulang untuk anak istri di rumah," katanya.

Menurutnya, rasa bubur kentir memang beda, terutama perpaduan antara rasa tepung, gula jawa dan ketan cukup membuatnya selalu nambah. "Kalau saya tidak paket lengkap, cuma lima bahan, ketan hitam putih, jenang dari tepung, tapi tidak pakai es, rasanya pas di lidah apalagi kalau masih hangat. Tapi kalau anak saya mintanya yang lengkap," tambahnya.

img

Ini Anggur? Bukan Ini Sale Pisang, Oleh-Oleh Khas dari Pacitan

Mendengar kata ‘sale’ biasanya orang akan teringat pada makanan yang dibuat dari pisang yang digoreng tipis-tipis dan menjadi makanan khas Jawa Barat, tetapi ada sale yang berbentuk bulat-bulat seperti anggur, dan jika ke Pacitan, maka layak untuk dijadikan oleh-oleh.