Dengan Jari, Santi dan Dedy Memutar Uang Puluhan Juta Setiap Bulannya

Banyak orang bermasalah ketika menggunakan media sosial, bahkan beberapa berakhir di penjara, tetapi bagi Dedy dan Santi dengan menggunakan jari-jarinya untuk memainkan medsos, uang puluhan juta berhasil mereka putar setiap bulannya.

Oleh Tomi Herlambang 28 May 18:14
image Santi (kanan) dengan salah satu pembelinya (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan, Arjosari—Dedy dan Santi, pasangan muda dua anak ini mencoba meraup rezeki dari tren  berjualan melalui media sosial dan cukup sukses. Menjadi reseller hingga agen produk busana muslim, omzet mereka mencapai Rp70 juta setiap bulan.

Di ruang berukuran 2,5 meter x 3 meter itu terlihat tumpukan kantong plastik dan kardus-kardus kecil. Ruang yang awalnya bagian teras rumah yang beralamat di RT 02 RW 01 Krajan Kulon Desa Jatimalang itu, sekarang berisi produk-produk pakaian dengan brand yang saat ini sedang digandrungi kaum muslimah milenial utamanya. Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB dan Santi tampak masih sibuk mengepak dan mencetak alamat yang kemudian ditempelkan di bungkusan yang telah jadi untuk dikirim ke pemesan.

Sang suami tampak asyik bercanda dengan anak bungsunya yang masih berumur empat tahun. "Tugas saya nanti mengantar ke pembeli. Hanya untuk area Arjosari saja, sekalian menunggu waktu berbuka," jelas Dedy, pria yang kesehariannya bekerja di dunia fotografi tersebut. "Namun kadang juga ada yang diambil sendiri, biasanya sekalian nambah barang," lanjutnya saat ditemui Selasa (28/05/2019).

Santi sebenarnya juga sudah memiliki pekerjaan yang pasti. Wanita yang lahir di Nawangan 32 tahun lalu itu sejak 2014 menjadi perangkat desa. "Saya tidak bisa mengolah sawah, tidak punya ilmunya. Jadi ini sebagai ganti hasil bengkok saya," jawab Santi sembari bercanda.

Mengusung nama Griya Hijab Khansa, usaha menjadi agen produk dan berjualan dengan memanfaatkan media sosial sudah mereka tekuni sejak 2,5 tahun yang lalu. Dari produk kosmetik, aksesories hingga peralatan elektronik pernah ia jual.

"Satu tahun ini saya fokus di produk-produk pakaian, terutama pakaian muslim baik pria maupun wanita," jelasnya.

Menggandeng tiga produsen busana muslim, Santi dan  suaminya gencar memasarkan produk hingga keluar Pacitan. "Untuk luar wilayah, saya jadi dropshiper saja, ambil untung tipis. Namun untuk wilayah Pacitan, kami menjadi agen langsung," ungkap Santi.

Walaupun pasangan tersebut mengaku usaha tersebut hanya sampingan, namun jika dilihat dari omset yang mereka putar dalam satu bulan ternyata bisnis tersebut termasuk menjanjikan. Untuk komoditas dengan harga antara Rp100.000 hingga Rp500.000 /biji, omset mereka bisa mencapai Rp70 juta. "Labanya rata-rata diangka 10 -15%, tergantung kita jual lagi ke-reseller atau costumer," jelas Santi. "Nanti dipotong pulsa suami dan bensinnya, juga biaya internet, packing ulang dan cetak alamat. Ketemu labanya," sambungnya.

Menurut Santi, pertama ia dan suami bermain onlineshop modal yang mereka keluarkan memang tidak terlalu besar. Namun sekarang setelah menjadi agen resmi, ia harus rela berurusan dengan bank untuk menambah modal.

"Saya pikir dulu dengan modal pulsa internet saja cukup. Tenyata setelah terjun lebih dalam, semua butuh modal lebih," ucap Santi.  “Yang penting barang bisa berputar, dan ada keuntungan yang dapat diambil," tambahnya.

Santi juga menjelaskan untuk barang yang ia jual ia tidak menerapkan sistem kredit, titip jual ataupun cash tempo. Hal itu mereka jadikan komitmen dengan berbagai alasan. "Ya, yang pertama bentuk kehati-hatian kami karena modalnya harus pinjam. Yang kedua kami juga tidak ingin bermasalah di belakang dengan teman, saudara dan kenalan hanya karena urusan pakaian. Yang ketiga jika ada masalah, kami sendiri nanti yang akan kerepotan, kehilangan waktu harus nagih atau menarik barang. Kami intinya tidak ingin bermasalah dengan cutomer," Jelas Santi.

Hal itu dibenarkan oleh Rian, salah seorang reseller yang rutin bertransaksi di Griya Hijab Khansa milik pasangan Dedi Santi itu. Rian, wanita yang juga mempunyai usaha kuliner di objek wisata pemandian air hangat Tirta Husada di Desa Karangrejo tersebut mengaku walaupun sudah dua tahun menjadi reseller audina, belum sekalipun ia diperbolehkan berutang, ataupun pinjam barang dahulu.

Menurutnya, produk-produk yang ditawarkan selalu sesuai dengan ukuran dan gambar yang ditawarkan. "Paling saya hanya diberi bonus kantong plastik ini sama bu Santi," ucapnya setengah bercanda.

Namun meskipun demikian, Rian dapat memaklumi dan ia pun menerapkan peraturan yang sama kepada pelanggannya. "Ya dengan kredit, keuntungan yang ditawarkan memang lebih besar, namun semua itu menurut saya tidak akan sesuai dengan maksiatnya jika ke depan ada masalah. Kita kan berjualan tidak hanya sekadar cari untung, tapi juga silaturahmi, berbagi dan menambah saudara," ucap Rian.

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.