Harga Suweg Naik, Petani Gembira

Petani coplok atau suweg di Kabupaten Pacitan bisa tersenyum karena harga jenis umbi-umbian ini harganya melejit dalam beberapa waktu terakhir.

 

Oleh Editor 15 Apr 09:13
image Hasil panen suweg (sumber: Halopacitan/Sigit Dedy Wijaya)

Halopacitan,Tegalombo—Saat ini satu kilogram suweg bisa dijual oleh petani dengan harga Rp4.000 per kilogramnya dalam kondisi basah setelah sebelumnya hanya Rp2.500. Tentu saja hal ini memberikan petani keuntungan yang lebih tinggi.

 “Harganya sekarang naik, kalau awal-awal dulu masih murah, sekitar Rp2.500, tetapi sekarang sudah Rp4.000 dalam kondisi basah, kalau kering sekitar Rp8.000-10.000,” kata Rini, (30) petani coplok di Desa Kebondalem, Kecamatan Tegalombo Sabtu (14/04/2018).

Suweg sendiri dikenal sebagai umbi-umbian yang dapat digunakan sebagai bahan mi, tahu, kosmetik, roti hingga lem. Tepung suweg juga dipercaya bisa meningkatkan kadar glukos darah sekaligus mengurangi kadar kolesterol.

Dia berharap penghasilan panen kali ini bisa berlipat dibandingkan sebelumnya. “Kalau kemarin pas harga Rp2.500 kami menjual basah sekitar 80 kilo, dapat uang Rp200 ribu. Sekarang semoga lebih besar,"ujarnya. Dalam satu tahun coplok dipanen antara satu sampai dua kali.

Dia menambahkan coplok, selain kunir, menjadi salah satu tanaman yang cukup aman dari gangguan monyet. “Kalau tanaman umbi-umbian lainnya kalah sama monyet,” tambahnya.

Sumiatin, pengepul suweg di Dusun Krajan Desa Kebondalem mengakui harga hasil pertanian ini emmang sedang bagus. Dia mengaku menjual suweg ke berbagai kota seperti ke Madiun, Mojokerto, Semarang.

“Kalau ini kan masih proses pengeringan, dan pengumpulan, jadi belum terlihat hasilnya,"terang Sumiatin saat ditemui Halopacitan. Mengenai proses pengeringan coplok atau suweg paling cepat lima sampai tujuh hari, tergantung sama panasnya. (Sigit Dedy Wijaya)

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.