Hati-Hati! Tanah Pacitan Makin Sulit Menyimpan Air

Kekeringan yang melanda sebagian wilayah di Pacitan tahun ini melebihi perkiraan semula. Bukan itu saja, ketersediaan air tanah di kabupaten ini dari tahun ke tahun dirasakan semakin menipis. Ada apa sebenarnya dengan tanah Pacitan?

Oleh Sigit Dedy Wijaya 18 Oct 09:22
image Seorang warga Pagergunung menggendong jeriken air di jalan menanjak Rabu (17/10/2018) (sumber: Halopacitan/Eko Prasetyo)

Halopacitan, Pacitan—Hingga awal Oktober Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan mencatat ada 31 desa yang mengalami krisis air bersih. Jumlah ini meningkat tajam dibandingkan pertengahan Juli 2018 lalu yang baru 13 desa. Sedangkan pada Agustus 2018 sebanyak 22 desa yang terdampak kekeringan.

Jumlah desa yang mengalami kekeringan juga melebihi pemetaan awal di mana hanya ada 28 desa yang diperkirakan akan dampak kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Windarto mengakui luas wilayah yang terdampak kekeringan lebih banyak dibandingkan pemetaan awal karena banyaknya jaringan air yang belum sempurna. Namun dia mengatakan kekeringan ini masih dalam batas wajar.

"Kekeringan di Pacitan ini belum begitu parah, masih dalam batas wajar," ujar Windarto singkat, saat dihubungi Halopacitan Rabu (17/10/2018) malam.

Salah satu cara yang dilakukan selama ini adalah dengan melakukan droping air ke wilayah yang mengalami kekeringan.  Windarto menjamin anggaran untuk mengatasi masalah ini masih cukup. "Masih cukup, APBD Provinsi juga membantu," katanya tanpa menyebut berapa anggaran yang mereka miliki.

Namun droping adalah solusi jangka pendek, sementara masalah air ke depan sepertinya akan semakin sulit. Hal ini tergambar dari pernyataan Suyadi, Kepala Bagian Hubungan Pelanggan di PDAM Pacitan yang mengatakan saat ini cadangan air baku untuk PDAM semakin menipis, terutama di daerah Donorojo, Nawangan, Tulakan, Ngadirojo, Sudimoro.

"Misalnya di Donorojo, itu kan pompa kita, bisa ambil 40 liter per detik, saat ini kita ambil 50% saja tidak bisa, karena air bakunya yang mengecil. Untuk mensiasati itu kita lakukan block sistem tidak 24 jam, untuk pembagian air," terang Suyadi.

Masalah klasik yang menjadi penyebab semakin menipisnya air adalah lingkungan yang kian tidak mendukung air untuk tinggal lama di dalam tanah Pacitan. Salah satunya dengan banyaknya hutan yang semakin gundul.

Menurut Suyadi, Pacitan semakin miskin tanaman yang bisa menyimpan air seperti trembesi, beringin, aren, dan sejenisnya dan diganti dengan tanaman berumur pendek.

"Masyarakat sekarang kan cenderungnya menanam pohon sengon, karena sekitar lima tahun sudah di panen, padahal pohon sengon tidak bisa menyimpan air seperti pohon aren, trembesi dan lainnya," katanya.

Sebenarnya, lanjut Suyadi, progam pemerintah untuk membuat Waduk Tukul di Karanggede itu sudah benar, untuk memenuhi kebutuhan air wilayah Arjosari dan kota. Namun bagaimanapun faktor lingkungan akan menjadi masalah serius jika tidak segera disadari.

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.