Jalan Hilang Tersapu Banjir, Warga Karangrejo Harus Akses Baru

Banjir yang terjadi Rabu (06/04/2019) membuat jalan sepanjang 100 meter di Desa Karangrejo, Arjosari hilang tersapu air. Akibatnya empat RT di dua dusun teriosali dan kini harus membuat jalan baru.

 

Oleh Tomi Herlambang 09 Mar 10:22
image Warga Karangrejo membuat jalan baru (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan, Arjosari—Jalan yang hilan tersebut menjadi akses utama warga RT 09/RW06 dan RT10/RW06, Dusun Wonosari dan RT 07/RW05 serta RT06/RW05 Dusun Trobakal. Akibatnya sekitar 112 kepala keluarga yang tinggal di sebelah timur sungai Brungkah tersebut terisolasi.

Tidak ingin berlama-lama meratapi keadaan dan keinginan segera beraktivitas normal, masyarakat di kawasan berinisiatif membuat akses jalan baru dengan menggunakan lahan yang berada di sebelah bekas jalan lama yang hilang.

Bermodal cangkul, linggis dan semangat, mereka bergotong-royong merubah tebing tanah dan batu menjadi badan jalan.

Jalan baru yang dibuat warga sepanjang 170 meter dengan lebar 0,75 meter. "Ini lebih panjang, karena harus naik ke punggung bukit. Jalannya jadi lebih berbahaya karena curam. Yang penting kendaraan roda 2 dan manusia bisa lewat dahulu", ujar Mohammad Darusalam salah seorang warga Jumat (08/03/2019)

Berdasarkan pantauan di Dusun Trobakal, akses yang putus adalah jembatan, dan hari ini diupayakan warga dan pemerintah desa untuk membuat jembatan darurat.

Dimintai keterangan terkait situasi di Desa Karangrejo, Camat Arjosari Didik Dermawan menyampaikan semua dampak banjir sudah dilaporkan ke BPBD Kabupaten. "Nanti akan identifikasi dampak, dipisah sesuai bidang, dan dibuat penganggarannya. Contohnya untuk jalan dan jembatan yang rusak di Dinas PU&PR, untuk persawahan di Dinas Pertanian," jelas Didik Jumat. (09/03/2019)

Camat juga meminta desa-desa di Kecamatan Arjosari yang saat ini terkena dampak bencana dan telah menganggarkan Dana Tanggap Bencana di APBDes-nya untuk segera menyelenggarakan musyawarah desa alternatif untuk penggunaan dana tersebut sesuai kebutuhan masing-masing desa.

"Mekanismenya tidak ribet, cukup musyawarah desa terkait dampak bencana, kemudian disusun penganggarannya dan diajukan ke kami untuk direkomendasi dan setelah kami terbitkan rekomendasi setelah tentunya melalui proses analisa, dana bencana dapat dicairkan langsung", lanjut Didik Dermawan.

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.