Ketika Air adalah Sebuah Perjuangan

Hujan telah berbulan-bulan tak turun di bumi Pacitan. Ratusan mata air telah lama mongering membuat warga harus berjuang keras untuk bisa mencukupi kebutuhan pokok tersebut.

Oleh Eko Prasetyo 19 Oct 17:14
image Seorang warga Dusun Pagergunung, Desa Sambong Kecamatan Pacitan memikul gentong berisi air untuk dibawa pulang kerumahnya sejauh 500 meter (19/10/2018) (sumber: Halopacitan/Eko Prasetyo)

Halopacitan, Pacitan—Berdasarkan data yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan tercatat ada 31 desa yang mengalami krisis air bersih. Jumlah ini melebihi pemetaan awal di mana hanya ada 28 desa yang diperkirakan akan dampak kekeringan.

Bantuan air terus diberikan kepada berbagai daerah, tetapi apa daya, dengan sejumlah keterbatasan jelas tidak mungkin bantuan bisa diberikan secara merata dan terus menerus. Tidak ada pilihan lain bagi warga kecuali mencari air dengan berbagai cara.

Jika ada uang, mereka membeli. Jika tidak ada dana, jalur sulit dan jauh pun ditempuh. Berikut gambaran sekilas bagaimana warga Pacitan berjuang untuk mendapatkan air

Sejumlah jeriken antre untuk diisi air di sebuah pipa kran air di Dusun Siwalan, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan (18/10/2018).

Jalan terjal harus dilalui warga  Dusun Pagergunung, Desa Sambong Kecamatan Pacitan untuk membawa air sampai ke rumah (19/10/2018).

Bagi sebagian warga lain, kekeringan dimanfaatkan untuk menjual air secara keliling di Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan (18/10/2018).

Bantuan air menjadi salah satu upaya dari pemerintah dan beberapa komunitas intuk membantu meringankan warga terdampak kekeringan salah satunya di Dusun Banaran, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan(18/10/2018).

Warga Dusun Pagergunung, Desa Sambong, Kecamatan Pacitan mencari sumber air baru dengan menggunakan metode lidi (19/10/2018).

Warga Desa Semanten, Kecamatan Pacitanmembuat sumur baru dengan harapan mendapatkan sumber air yang melimpah (19/10/2018).

Foto-foto: Halopacitan/Eko Prasetyo

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.