Mengenal Wayang Suluh, Alat Penyuluhan Warga Pacitan

Pementasan wayang suluh asli Pacitan dengan dalang Ki Fajar Ariyanto beberapa waktu lalu di Pacitan. Wayang Suluh adalah wayang yang terbuat dari kulit dan berbentuk manusia biasa.

Oleh Editor 05 Dec 02:03
image Wayang Suluh KI Fajar Ariyanto (sumber: Konten Kreatif Indonesia)

Pementasan wayang suluh asli Pacitan dengan dalang Ki Fajar Ariyanto beberapa waktu lalu di Pacitan. Wayang Suluh adalah wayang yang terbuat dari kulit dan berbentuk manusia biasa, seperti tokoh wayang keseharian, misalnya lurah, guru, petani, saudagar, anak sekolah, mahasiswa dan lainnya.

Wayang suluh berkisah tentang permasalahan sehari-hari dalam keluarga dan masyarakat pedesaan yang dikemas secara sederhana sesuai  keadaan masyarakat waktu itu.

R.M Sutarto Harjowahono merupakan pembuat wayang suluh pada tahun 1920 yang berasal dari Solo. Pementasan wayang suluh pertama dilakukan di gedung balai Rakyat Madiun, Jawa Timur pada 10 Maret 1947.

Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam pagelaran itu merupakan tokoh populer zaman itu seperti Soekarno, Hatta, Syahrir dan sejumlah tokoh Belanda. Semua digambarkan persis seperti keadaan aslinya.

Salah satu dalang wayang suluh ternama adalah Mbah Cermo dari Pacitan yang beredar di tahun 70-an. Wayang suluh juga digunakan oleh menteri penerangan seperti Ali Murtopo, Boediharjo dan Harmoko sebagai media penerangan pemerintah kepada masyarakat.

Dalam beberapa pementasan wayang kulit saat masuk adegan limbukan, dalang sering memainkan wayang suluh ini untuk menyampaikan program-program pemerintah. Sayang, saat ini pementasan wayang suluh semakin jarang dilakukan, tergerus oleh beragam budaya dan teknologi baru.

 

img

Nyambung Paseduluran, Sebuah Nilai Agung Milik Wong Pacitan

Badai Siklon Cempaka yang telah melanda Kabupaten Pacitan telah membuka mata kita semua. Bencana yang meluluhlantakkan kabupaten di Jawa Timur ini nyatanya semakin membuktikan satu budaya masyarakat: Nyambung Paseduluran (menyambung persaudaraan).