Menikmati Lembah dan Menantang Jurang di Bukit Cakrawala

Bentang alam Pacitan memang menawarkan banyak keindahan. Tidak hanya pantai, bukit dan lembah di kawasan ini juga memiliki pemandangan yang tak kalah mengesankan.

 

Oleh Tomi Herlambang 20 Apr 11:57
image Panorama dari Bukit Cakrawala (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan, Tegalombo—Terletak di puncak tertinggi di Desa Kasihan, Kecamatan Tegalombo. Bukit Cakrawala adalah destinasi wisata baru yang menyajikan pemandangan alam khas pegunungan. Dengan ketinggian 860 meter di atas permukaan air laut (mdpl), suhu yang sejuk dan udara dingin akan membuat kita lupa bahwa Pacitan sebenarnya berada di pesisir pantai.

Berjarak kurang lebih 32 km dari pusat kota Pacitan menuju Kabupaten Ponorogo, sampai di kota Kecamatan Tegalombo belok kanan menuju jalur Kecamatan Tulakan yang melintasi Desa Kasihan, Bukit Cakrawala yang berada di Dusun Krajan tepat di sisi kanan jalan.

Dibuka kurang dari enam bulan lalu, Bukit Cakrawala dibangun dengan dana desa karena tanahnya merupakan aset desa. Kepala Desa Kasihan Sudirno mengatakan pembangunan Bukit Cakrawala sudah menyerap dana Rp150 juta dan untuk tahun ini sudah dianggarkan pula dengan nilai yang kurang lebih sama.

"Kami terkendala oleh besarnya wilayah Desa Kasihan dan banyaknya jumlah penduduk, sehingga penggunaan dana desa untuk Puncak Cakrawala belum maksimal karena harus dibagi dengan wilayah yang lain," katanya Sabtu (20/04/2019)

Sudirno mengaku bahwa sebenarnya Bukit Cakrawala masih merupakan rintisan awal, dan saat ini yang bisa ditawarkan adalah area selfie dan flying fox. "Konsep utamanya adalah  agro wisata terutama tanaman buah. Bukit Cakrawala ini belum apa-apa. Saya sebenarnya malu, karena semua belum tersedia, sedangkan tamu sudah mulai banyak yang datang terutama saat libur," jelas Sudirno.

Walaupun masih banyak kekurangan di sana-sini, menurut pengakuan salah satu pengunjung Bukit Cakrawala yaitu Dwi yang berasal dari Tulakan, Bukit Cakrawala menawarkan konsep selfie dan gardu pandang yang berbeda dari pada yang selama ini ada di Pacitan.

"Kalau dari sini yang tampak adalah lembah, hutan hijau, jurang dan pegunungan, hawanya juga sejuk. Kalau di Sentono Gentong atau Mandi Angin yang dipamerkan hamparan lautan," katanya.

Selain itu menurut Dwi keberadaan wahana flying fox sepanjang 237 meter, yang melintasi jurang menjadi tantangan tersendiri. "Wah, jantung saya seperti mau copot saat berada tepat di atas jurang, pengin nangis tadi," ujar pelajar di salah satu SMTP di Kecamatan Tulakan tersebut.

Slamet salah seorang penjaga loket di lokasi itu mengatakan bahwa wisatawan dari berbagai wilayah sudah banyak yang datang. Menurutmua, kebanyakan pengunjung berasal dari lokal Pacitan saja sementara yang dari luar daerah rata-rata dari wilayah timur Pacitan.

"Yang sering mampir dari luar kota itu dari Ponorogo, Trenggalek dan Madiun. Seringnya selfie saja, beberapa mencoba flying fox", ucap Slamet.

Slamet menjelaskan untuk tiket masuk setiap pengunjung dikenai tarif Rp3.000 ditambah tarif parkir motor Rp2.000. Sedangkan jika ada pengunjung yang ingin mencoba wahana flying fox dikenai tarif Rp 10.000 sekali melintas.

img

Hempasan Air Bah dari Gua Purba

Pacitan mengalami fenomena langka ketika dilanda banjr besar pada Rabu 29 November 2017. Hujan tanpa jeda akibat siklon tropis Cempaka telah membuat banyak wilayah terendam.

img

Pantai Teleng Rusak Terkoyak Bencana

Dua hari pasca banjir yang melanda berbagai daerah di Pacitan, sebuah kabar buruk datang dari pantai Teleng Ria. Lokasi tujuan utama wisata pantai di Pacitan ini rusak parah.

img

Menikmati Panorama Kota Pacitan Dari Gunung Lanang

Panorama Kota Pacitan jika dilihat dari ketinggian sangat indah. Salah satu titik point untuk menikmati panorama Kota Pacitan dari atas adalah dari puncak Gunung Lanang yang berada di Desa Punjung, Kecamatan Kebonagung.