Museum Purbakala Buwono Keling Terancam Jadi Fosil

Museum purbakala Buwono Keling yang ada di Mantren, Kecamatan Punung Pacitan sebenarnya memiliki nilai tinggi untuk mencari asal usul manusia Pacitan. Sayang bangunan ini justru terlihat lusuh, tak terawat dan sepi.

Oleh Tomi Herlambang 06 Feb 12:32
image Museum Purbakala Buwono Keling (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan,Punung— Museum yang terletak di di jalur utama Pacitan-Solo maupun Pacitan-Jogja tersebut dibangun pada tahun 1996  dengan bangunan satu lantai berukuran 20 m x 50 m. Namun kini terlihat rusak di beberapa bagian. Atap runtuh dan memudar di sana-sini menunjukkan tempat itu benar-benar tidak terawatt lagi.

Lebih mengenaskan lagi ketika masuk ke dalamnya, tidak ada barang yang dipamerkan layaknya sebuah museum.Padahal museum ini memiliki lebih dari 3.000 koleksi peninggalan masa purba seperti fosil tumbuhan, fosil hewan laut purba, peralatan manusia purba dan lain-lain yang berkisah tentang manusia dan budayanya pada masa lampau. Namun penjaga fosil itupun justru terancam jadi fosil karena tidak terawat.

Slamet, salah seorang penjaga museum mengaku barang-barang yang ada di dalam museum untuk sementara disimpan dirumahnya, "Biar tidak ikut rusak dan lebih amanm" ujarnya.

Kepala Bidang Kabid Museum dan Kepurbakalaan  Dinas Pendidikan Pacitan, Aviv mengatakan museum tersebut berada di bawah pengelolaan Balai Pengelolaan Cagar Budaya Trowulan yang ada di bawah Kementerian Pendidikan. Menurutnya sampai saat ini belum ada kejelasan dan keputusan tentang nasib museum tersebut.

"Belum ada keputusan, kemungkinan untuk isi museum akan dipindah ke museum yang baru didepan objek wisata Song terus di desa Wareng kecamatan Punung, yang  rencananya tahun ini pembangunannya selesai." Ujarnya.

Aviv juga menaruh harapan besar, selain terkenal dengan Paradise of Java, Pacitan juga terkenal dengan wisata edukatifnya terutama wisata kepurbakalaannya.

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.