Puluhan Hektare Sawah di Tambakrejo Terendam Banjir, Petani Terpaksa Panen Lebih Cepat

Sekitar 40 hektare lahan sawah di Desa Tambarejo Kecamatan Pacitan terendam banjir yang terjadi Rabu (06/03/2019) lalu. Sebagian gagal panen sebagian dipastikan hasilnya jauh dari harapan.

Oleh Tomi Herlambang 11 Mar 15:07
image Petani Tambakrejo terpaksa panen cepat karena sawahnya terendam banjir (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan, Pacitan—Kepala Desa Tambakrejo Winarno mengatakan dari sekitar 40 hektare lahan sawah yang terendam, empat hektare di antaranya dipastikan gagal panen. " Sisanya tetap masih bisa dipanen walaupun hasilnya pasti mengecewakan," katanya Senin (11/03/2019).

Sejumlah petani juga memutuskan untuk memanen padinya lebih cepat karena jika menunggu hasilnya akan lebih buruk lagi.  Yusiswanti (32), salah satu petani menjelaskan sebenarnya tanaman padinya belum saatnya dipanen, namun karena roboh terpaksa dipanen.

“Idealnya masih 10 hari lagi dipanen. Namun apa boleh buat, karena roboh dan terendam air terpaksa kami panen daripada busuk bulirnya", jelasnya. 

Yusiswanti juga mengatakan, memanen dalam kondisi terendam membutuhkan waktu, tenaga dan  biaya yang lebih banyak tetapi hasilnya tidak maksimal. Batang padi harus diangkut ke tempat yang lebih kering untuk dirontokkan. Karena batang masih basah, banyak bulir padi masih banyak yang tertinggal.

"Bulirnya banyak yang belum berisi. Ini nanti habis dirontok, saya bawa ke sungai untuk dicuci biar tanah yang nempel hilang baru dijemur. Panen musim ini dapat separuh dari biasanya saja sudah Alhamdulillah,” ujarnya.

Sugeng (48) juga mengungkapkan hal yang sama. "Ini sawah adik perempuan saya, semuanya terendam air. Kemarin saat menanam kesulitan air, sehingga benih yang ditanam terlalu tua, hari ini malah dipanen muda karena roboh dan terendam air. Lihat saja, gabahnya berwarna cokelat kehitaman padahal sudah kami cuci di sungai tadi,” ujar Sugeng.

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.