Redam Banjir Batu, Penahan Sedimen Kali Brungkah Senilai Rp14 Miliar Segera Dibangun

Longsoran material Gunung Parangan yang terbawa aliran sungai Brungkah menimbulkan bencana banjir di sejumlah wilayah. Wajar jika masyarakat bernapas lega setelah ada keputusan untuk membangun penahan sediman di sungai tersebut.

Oleh Tomi Herlambang 15 Apr 13:07
image Sosialisasi pembangunan penahan sediman Kali Brungkah Senin (15/04/2019) (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan, Arjosari—Banjir batu terutama terjadi saat musim hujan di wilayah Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari yang meliputi Dusun Trobakal, Krajan dan Brungkah.  Kondisi ini sudah terjadi sejak banjir besar yang terjadi akhir 2017 lalu.

Kini Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo akan membangun penahan sediman di wilayah tersebut. Dalam sosialisasi di depan warga di Balai Desa Karangrejo, Senin (15/04/2019) BBWS mengatakan perintah pembangunan penahan sedimen ini datang langsung dari Menteri PUPR Basuki Hadi Mulyono yang beberapa waktu silam meninjau langsung ke lokasi Kali Brungkah.

Menurut Agus Widiarto salah satu wakil dari BBWS Bengawan Solo, penahan sedimen akan dibangun sepanjang 66 meter, tinggi dari permukaan air 10 meter dengan ketebalan bagian atas rata-rata 3 meter. "Murni untuk penanggulangan bencana dan mengurangi sedimentasi di Kali Brungkah dan Sungai Grindulu", katanya.

BBWS Bengawan Solo dalam sosialisasinya juga menjelaskan bahwa dalam pembangunan ini sangat dimungkinkan akan mengganggu aktivitas warga masyarakat di sekitar area pembangunan. Baik gangguan secara langsung maupun penggunaan aset warga yang berada di area tersebut.

"Hal ini membutuhkan kesadaran warga, untuk itu kami menggandeng Pemerintah Desa Karangrejo untuk membantu kami melakukan sosialisasi kepada warga", lanjutnya.

Senada disampaikan Plt Kepala Desa Karangrejo Sardi, S.E dan Camat Arjosari Didik Darmawan, S.Stp yang menaruh harapan besar penahan sedimen senilai kurang lebih Rp14 miliar ini dapat segera dibangun dan menjadi salah satu solusi penanganan banjir material di Karangrejo.

"Sebelum dikumpulkan di sini, saya sudah terjun ke masyarakat yang terdampak pembangunan. Pada intinya mereka dapat menerima, namun masyarakat juga berharap ada kompensasi terhadap warga yang harus kehilangan tanahnya. Ini sedang kita bicarakan bersama," jelasnya.

Camat Arjosari juga telah menyerap aspirasi dan keinginan warga sekitar untuk sekiranya dapat menjadi bagian dari pembangunan tersebut. "Lingkungan sekitar berharap sekiranya pembangunan dilaksanakan, untuk tenaga kerjanya dapat diambilkan dari warga sekitar, lalu bagaimana nasib warga yang selama ini menggantungkan hidup sebagai para pencari batu disitu," jelasnya.

Sementara Tobib salah seorang perwakilan warga dalam sosialisasi tersebut menyampaikan bahwa pada dasarnya ia dan warga yang lain sudah memahami maksud dan tujuan dari pembangun tersebut. Namun ia dan beberapa warga lain masih berharap jika memang tidak ada ganti rugi, setidaknya ada kompensasi atas tanah warga yang terdampak.

"Kami paham dan kami mengerti, bahwa pembangunan itu yang menikmati kami sendiri. Namun jika tidak ada ganti rugi, setidaknya ada kompensasi apa begitu," ucapnya disambut anggukan kepala warga yang lain.

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.