Sudah Setahun Jembatan Hilang, Anak-Anak Ini Harus Berjuang Keras untuk Berangkat Sekolah

Sejumlah siswa sekolah dasar di Dusun Wonosari, Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari harus berjuang  keras untuk berangkat ke sekolah karena harus menyeberangi derasnya arus Sungai Grindulu. Sudah setahun lebih mereka harus melakukan ini setelah satu-satunya jembatan penghubung  terputus akibat banjir November 2017 lalu. 

Oleh Eko Prasetyo 10 Jan 14:49
image Sejumlah siswa SD digendong orang tuanya saat menyeberangi Sungai Grindulu saat hendak berangkat sekolah (sumber: Halopacitan/Eko Prasetyo)

Halopacitan,  Pacitan – Meski sudah setahun hilang, hingga saat ini tidak ada jembatan baru yang dibangun. Semenjak saat itu puluhan siswa  dari kampung tersebut, harus melewati derasnya arus Sungai Grindulu untuk dapat menuntut ilmu.  Tak jarang mereka tercebur bahkan terseret arus, saat menyebrangi sungai. Para orang tua merekapun ikut tak jarang membantu menyeberangi sungai.

"Ada sekitar  17 anak sekolah dari kampung kami,  setiap hari menyeberang sungai waktu berangkat dan pulang sekolah.  Kalau arusnya agak besar ya digendong orang tuanya, kalau sendiri sering kali terpeleset, "  kata Sri Utami  (40) salah seorang warga setempat kepada Halopacitan, Kamis  (10/01/2019).

Tri Ma’rifatun Nafi’ah (12) siswi kelas VI di SDN 1 Karangrejo mengaku setiap hari harus melewati derasnya arus Sungai Grindulu yang berada di samping rumahnya untuk menuju ke sekolahnya.  “Kemarin saya kecebur sungai pas mau berangkat ke sekolah.  Seminggu ini udah nyemplung dua kali,  ya sakit semua tapi enggak papa.  Ganti baju di rumah terus berangkat lagi,  disebrangkan sama bapak, “ katanya.

Kondisi semakin rumit ketika arus air sungai meninggi. Bahkan mereka terpaksa bolos sekolah karena tidak berani menyeberang.

 “Semua temen-temen sekolah dari sini kayaknnya punya seragam dobel, soalnya lumayan sering tercebur, tetapi kalau pas lagi airnya deras ya enggak masuk sekolah, enggak bisa nyebrang, “ tambahnya.

Tak hanya itu, setelah sampai di seberang mereka masih harus menaiki tanggul sungai setinggi sekitar 4 meter untuk sampai di jalan dan berjalan kaki ke sekolah yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya.  “Enggak capek udah biasa.  Kalau ada mobil lewat nunut ke mobil,  kalau nggak ya jalan kaki,“  kata Adit siswa SD lainya.

Mereka hanya bisa berharap kepada pemerintah untuk segera dibuatkan jembatan agar lebih mudah saat menuju ke sekolahnya. “Penginnya ada jembatannya lagi seperti dulu, biar bisa sekolah terus, biar mudah ke sekolahnya, biar enggak ada yang kecebur lagi, “ harap Adit.

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.