Tetap Semangat, Ujian Akhir Semester Digelar Lesehan di Masjid

Sekitar 760 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Arjosari, Kabupaten Pacitan terpaksa mengikuti ujian akhir semester di kelas darurat. Mereka menggunakan ruangan dua masjid karena sekolah mereka rusak berat diterjang banjir bandang.

Oleh Editor 05 Dec 16:18
image Ruangan SDN Arjosari yang rusak karena banjir (sumber: Warga Arjosari Pacitan)

Halopacitan, Arjosari -- Ujian juga digelar secara lesehan tanpa penyekat maupun pembagian antarkelas. Kepala SMPN 1 Arjosari Tjatur Heri Subagyo mengatakan, pelaksanaan ujian menggunakan kelas darurat terpaksa dilakukan agar tahapan dan jadwal pendidikan tidak terganggu, serta mempertimbangkan peminjaman ruang oleh pihak takmir untuk UAS siswa mereka.

Dua masjid yang digunakan adalah Masjid Jami' Bendo, Kecamatan Arjosari untuk UAS siswa kelas VIII dan VII  sebanyak 512 siswa dan Masjid Jami' Semo, Arjosari untuk  siswa kelas VII yang berjumlah 248 siswa.

Meski di tengah bencana, siswa dengan semangat mengikuti ujian. Pada hari pertama yakni Senin (4/12), tingkat kehadiran juga cukup tinggi yakni 98,5 persen. “Ada 11 siswa yang berhalangan hadir karena akses jembatan di kampungnya yang putus atau ikut mengungsi orang tua. Hari ini malah kehadiran 100 persen," katanya.

Pelaksanaan UAS dijadwalkan berlangsung hingga Senin (13/12), untuk semua mata pelajaran pendidikan di sekolah.

Menurut Tjatur Heri, seluruh sekolah baik jenjang SD dan SMP hingga setingkat SMA yang memiliki jadwal sama pelaksanaan UAS diimbau untuk tetap menggelar ujian semester meski sekolahnya terdampak bencana, dengan memanfaatkan ruang yang ada atau menggunakan kelas darurat seperti fasilitas masjid, balai desa hingga rumah-rumah warga. "Jika jadwal ujian diundur nanti malah kegiatan belajar-mengajar siswa terganggu," ujarnya.

Soal pengawasan ujian, Tjatur mengatakan guru memberi kelonggaran. Para guru duduk menunggu di beberapa titik sambil memantau pelaksanaan ujian tanpa menegur meski siswa mengerjakan soal sambil bertukar jawaban.

"Kami harus maklum. Bagaimanapun bencana ini mengganggu kesiapan siswa dalam menghadapi ujian. Banyak buku pelajaran mereka yang hanyut terbawa banjir atau tertimbun longsor sehingga tidak bisa belajar," katanya dilansir Antara.

 

Menurut pengakuan Tjatur, siswa yang kehilangan bahan buku pelajaran mencapai 80 persen. Kasus serupa juga terjadi di seujmah sekolah termasuk tingkat SD yang membuat pelaksanaan ujian dilakukan secara alakadarnya.