Tragedi Purung dan Putri Sedayu Meriahkan Pawai Budaya Kecamatan Ngadirojo

Banyak cara yang dilakukan dalam memperingati HUT ke-73 kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya dengan digelarnya Pawai Budaya yang dilakukan berbagai sekolah dasar di Kecamatan Ngadirojo.

Oleh Editor 19 Aug 14:55
image Peserta pawai menampillkan tema Putri Sedayu (sumber: Halopacitan/Sigit Dedy Wijaya)

Halopacitan, Ngadirojo—Bertempat di lapangan Ngadirojo, Kecamatan Ngadirojo, Minggu, (19/08/2018).  Sebanyak 25 SD ikut dalam kegiatan yang digelar kedua kalinya dalam dua tahun terakhir.

Tepat pukul 08.00 WIB, kegiatan pawai budaya dimulai. Setiap peserta mengawali pawai dengan menampilkan kreasi budaya di depan juri dengan waktu yang telah ditentukan sebelum berjalan menuju titik akhir yakni di lapangan Tanjungpuro yang berjarak sekitar dua kilometer.

Peserta tampil sebelum memulai pawai (Halopacitan/Sigit Dedy Wijaya)

Dengan penuh keceriaan, pakaian warna warni, serta tari-tarian yang diiringi musik tradisional seperti gamelan lagu-lagu Jawa, pawai bergerak dengan meriah.

Yang cukup menarik setiap peserta mengusung tema berdasar cerita atau legenda lokal serta berbagai produk andalan yang ada di Kecamatan Ngadirojo, seperti cerita babad desa, tradisi bersih desa, cerita Batik Pace, Belik Kuning, Tragedi Purung, Putri Sedayu, Kripik Ketosdan cerita-cerita lokal lainnya.

Salah satu peserta bersiap untuk berangkat (Halopacitan/Sigit Dedy Wijaya)

Salah satunya, peserta dari SDN Wonodadi Kulon 04 yang mengusung kisah lokal yaitu "Tragedi Purung" yang diambil dari longsor besar yang terjadi di Desa Wonodadi pada tahun 1962.

"Ceritanya, dulu di Gunung Purung ada seorang pertapa yang diejek, kemudian turun hujan selama 40 hari hingga terjadilah longsor yang besar. Dari kejadian tersebut, maka diambilah sebuah tema cerita lokal dalam pawai ini," kata Beno Wahyono, salah satu guru pembimbing di SDN Wonodadi Kulon 04.

Peserta dengan tema Tragedi Purung (Halopacitan/Sigit Dedy Wijaya)

Sedangkan peserta pawai gabungan dari SDN Pagerejo 2-3 dan 4, mengambil tema "Putri Sedayu" serta produksi olahan dari Desa Pagerejo yakni gula merah yang dikemas menggunakan plastik.

"Kita ambil tema Puteri Sedayu dan gula merah  karena mayoritas di daerah Pagerejo Nduwur berprofesi sebagai petani gula aren deres sendiri dari pohon kelapa dan diolah menjadi gula abang," kata Juhan Pamujiono, S.Pd. salah satu guru pembimbing di SDN Pagerejo 04. Selama pawai peserta juga membagikan gula merah ke penonton.

Peserta dengan tema Legenda Belik Kuning (Halopacitan/Sigit Dedy Wijaya)

Juhan menambahkan, SDN Pagerejo 03 dan 04 terletak di pegunungan dekat Gunung Limo, dan sudah perbatasan dengan Kecamatan Tulakan serta Kecamatan Kebonagung. Dia menceritakan dalam mengambil tema Puteri Sedayu merupakan cerita yang ada di daerah tersebut.

"Dulu daerah lereng Gunung Limo banyak hewan yang merusak tanaman. Lalu ada seorang putri yang berhasil menjinakkannya, setelah itu warga bisa menikmati tanaman khususnya kelapa yang berhasil dibuat menjadi gula jawa atau gula merah," imbuhnya.

Kisah Sumber Kapyuhan SDI Tawakkal (Halopacitan/Sigit Dedy Wijaya)

Begitulah cara masyarakat di Kecamatan Ngadirojo memperingati HUT ke-73 Republik Indonesia. Bergembira mensyukuri kemerdekaan dengan mengenalkan dan melestarikan budaya lokal yang ada agar tidak terkikis oleh perkembangan zaman. (Sigit Dedy Wijaya)

img

Tidak Saja Now, Mereka adalah Generasi Wow

Seperti anak-anak generasi now yang lain, mereka fasih dengan lagu-lagu Justin Bieber, Krisia Todorova, Bianca Ryan dan penyanyi kondang lainnya. Mereka juga fasih bergaul di dunia maya, modern dan modis. Tetapi ada yang membuat mereka berbeda, yakni kemampuan mereka memainkan nada pelog dan slendro.

 

 

img

Ingin Mendobrak Pandangan Negatif, Punk Rock Menggeliat di Kota Pacitan

Mendengar nama Kota Pacitan, sebagian besar orang akan berpikir tentang alam yang indah. Jajaran pantai yang menawan, goa-goa yang menantang atau jajaran perbukitan yang menghijau. Tidak salah, tetapi sebenarnya ada banyak hal menarik lain yang mungkin memang belum muncul ke permukaan.

 

 

img

Di Tangan Bimo, Werkudara Terus Hidup dan Menghidupi

Sangat layak anak muda ini menyandang nama Gunawan Bimo Putra. Bimo adalah sosok kondang di jagat pewayangan. Dia adalah putra kedua Pandawa yang juga dikenal sebagai Sena atau Werkudara.  Dan Gunawan Bimo Putra, seperti hidup dalam alam kesatria Jodipati tersebut.