Untunglah Sumur Tua Ini Tak Pernah Mati

Di sebuah siang yang terik. Seorang wanita tua dengan ember kecil yang diberi tali mengambil air dari sebuah sumur. Sedikit demi sedikit air dia ambil sampai ember besar yang dia siapkan pun akhirnya penuh juga.

 

Oleh Eko Prasetyo 18 Oct 08:59
image Seorang warga mengambil air di sumur tua Dusun Pagergunung (sumber: Halopacitan/Eko Prasetyo)

Halopacitan, Pacitan— Sri, demikian wanita warga Pagergunung Pacitan itu biasa dipanggil tampak lega setelah embernya penuh. Setelah itu warga lain yang sudah menunggu bergantian untuk mengambil air di sumur tua tersebut.

Gambaran itu terjadi hampir sepanjang hari di sebuah sumur tua yang ada di wilayah RT02 / RW11 Dusun Pegergunung, Desa Sambong, Kecamatan Pacitan. Sumur tua yang berada tepat di bawah pohon beringin besar itu menjadi satu-satunya sumber air yang masih tersisa untuk digunakan puluhan keluarga yang ada di sekitarnya.

Terdapat dua sumur tua dengan diameter kurang lebih tiga meter yang ada di bawah pohon tersebut. Namun air di sumur yang memiliki kedalaman kurang lebih tiga meter itu  pun terus menipis. Bukan hanya karena musim kemarau, tetapi juga karena banyaknya orang antre untuk mengambil airnya. “Airnya tinggal sejengkal jadi harus hati-hati ngambil airnya agar tidak keruh,” kata Sri.

Dusun Pagergunung memang menjadi salah satu wilayah yang mengalami kekeringan cukup parah pada musim kemarau ini. Tidak ada lagi mata air yang tersisa kecuali sumur tua milik seorang warga. Untunglah, pemilik sumur itu dengan ikhlas berbagi air meski kondisinya cukup sulit.

Sumur tua ini terletak sekitar 500 meter dari pemukiman warga dan berada di dataran terendah Dusun Pagergunung. Hal ini membuat warga yang mengambil air harus melewati jalur berat terutama saat pulang karena harus melewati jalur mendaki dengan membawa air.

"Sejak dulu saya lahir sumur ini juga sudah begini,sudah ada dan tidak pernah kering," tutur Suparwan (65).

Dia mengatakan pohon beringin tua yang diapit dua sumur tersebut tidak pernah dipotong. Hal inilah yang menjadikan ketersediaan air di sumur tersebut terus ada.

Sekitar 40 keluarga mengandalkan mata air tersebut. Warga secara bergantian mengambil air di sumber air dengan jadwal sendiri-sendiri agar semua kebagian air selain juga menunggu debit air naik lagi setelah diambil. “Giliran saya jam 04.00 pagi dan jam 12.00  siang, sekali mengambil air bawa dua buah jeriken 20 literan ,” ucap Sri  Rabu (17/10/2018).

 “Supaya merata air diambil secara bergantian,  jika diambil bersamaan airnya akan habis,” ucap Parti (68) warga lain yang juga mengambil air.

Warga sebenarnya berharap ada bantuan air bersih, namun hal itu tidak bisa terlalu diharapkan. “Sebulan ini baru tiga kali dapat bantuan air, sekali dari pemerintah, sekali dari klub off-road terakhir dari Toko Lestari, selain itu warga mengandalkan sumber air ” papar Sulianto (60) Kepala Dusun setempat.

Tidak ada pilihan lain, warga Dusun ini harus berjuang keras untuk mendapatkan air. Berjalan turun ke sumur tua, mengambil air secara bergiliran, kemudian dengan tertatih-tatih membawanya pulang melintasi jalur mendaki.  “Semoga cepat turun hujan,” tambah Sulianto.

img

Pacitan Bangkit

Banjir besar dan tanah longsor yang menimpa ribuan saudara kita di Pacitan pada 28 November 2017 lalu adalah kesedihan kita bersama. Bagi yang lahir dan hidup di Pacitan saat ini, mungkin inilah bencana terbesar, terdahsyat dan yang terbanyak menimbulkan korban jiwa.