Rabu, 02 Januari 2019 13:24 WIB
Penulis:AZ

Halopacitan, Arjosari— Puluhan hektare sawah di tiga desa di Arjosari belum bisa diolah karena tidak cukup air setelah beberapa minggu hujan tidak turun lagi dan debit sungai masih mengecil. Kondisi ini terjadi di desa Arjosari, Jatimalang dan sebagian Tremas.
Padahal hampir semua lahan tersebut sudah dibajak dan benih padi-pun sudah disemai rata-rata 2-3 minggu yang lalu.
"Seharusnya saat ini areal persawahan sudah digenangi air dan siap untuk ditanami mengingat usia benih sudah di atas 14 hari, tetapi mau bagaimana lagi hujan tiba-tiba berhenti dan debit sungai masih kecil" ungkap Asrori, salah satu petani penggarap Rabu (02/01/2019).
Dia menjelaskan, jika usia benih diatas 30 hari dipaksakan untuk ditanam maka batang yang tumbuh tidak subur dan akan mengurangi jumlah produksi saat panen nanti. "Benih sudah disebar, kalo mau diganti lahan persemaian juga mulai kering, nanti malah tidak tumbuh. Belum lagi uang yang untuk beli benih, untuk membajak ulang juga harus keluar biaya lagi" lanjutnya.
Sebenarnya untuk area persawahan di lokasi tersebut, ada saluran irigasi sekunder yang disebut gayuhan kiri yang biasa dimanfaatkan petani. Samsudin, salah seorang perangkat desa di Jatimalang menyampaikan bahwa sudah menjadi kebiasaan setiap kurang air, petani empat desa bersama-sama membuat dawuhan di Bendung Gunung Gajah yang airnya melalui saluran gayuhan kiri tersebut.
Hanya saja saat ini petani di Desa Gayuhan yang berada dihulu juga mulai menggarap lahannya. "Jika Gayuhan sudah mulai [menggarap sawah], air di saluran irigasi tidak sampai ke bawah" katanya.
Musim kemarau panjang dan hujan yang belum merata menjadi kendala utama petani di musim tanam tahun ini, lanjutnya.
Bagikan