Selasa, 23 Juni 2020 17:56 WIB
Penulis:SP

Pandemi COVID-19 Pacitan bukan hanya berdampak pada sisi kesehatan tetapi juga menggerus sendi perekonomian. Bukan saja perusahaan-perusahaan besar yang gulung tikar dan merumahkan karyawannya tetapi juga terjadi pada para pedagang kecil termasuk angkringan dan warung kopi di sekitar alon-alon Pacitan yang merasakan dampaknya.
Senin malam (22/06/2020) cuaca cerah dengan semilir angin yang dingin. Halo Pacitan berniat mampir sejenak untuk menikmati hangatnya kopi hitam di warung lesehan seputaran Alun-Alun Kota Pacitan setelah menghadiri acara tahlilan. Suasana taman alun-alun sudah mulai terlihat hidup dengan adanya warga yang mencari udara segar bersama keluarga atau teman. Sebagian besar lapak jualan di lokasi timur alun-alun sudah mulai membuka usaha warung lesehan meski beberapa lapak masih terlihat kosong dan gelap. Halo Pacitan kemudian memilih salah satu warung yang tampak masih sepi pengunjung.
“Saya baru buka belum ada seminggu mas, paling baru 5 hari ini aktif lagi jualan. Sudah hampir 3 bulan tutup warung sejak wabah corona. Kemarin sempat jualan 2 hari sebelum lebaran. Waktu malam takbiran lumayan ramai meski jalan raya dan taman ditutup oleh pemerintah” tutur Lestari si penjual.
“Saat libur jualan selama 3 bulan, keluarga saya benar-benar tidak mendapatkan pemasukan. Suami saya seorang buruh bangunan juga tidak ada pekerjaan sampai saat ini karena terhentinya proyek-proyek pembangunan. Untuk mencari pemasukan, saya dan suami jualan arang ke teman-teman yang buka usaha warung kopi”, ucap wanita asal Desa Nanggungan ini.
“Alhamdulillah, sejak masa new normal dan boleh berjualan lagi, sudah mulai ada pemasukan meski belum sama seperti sebelum wabah. Hari pertama berjualan bisa dapat rejeki 90 ribu rupiah. Kemarin sudah lumayan mas, bisa dapat 180 ribu rupiah karena pas malam minggu. Lumayan buat mengembalikan modal. Terus terang selama 3 bulan ini saya menghabiskan semua dana modal dan tabungan untuk hidup sehari-hari. Pemerintah sempat memberikan bantuan 600 ribu rupiah sekali saja. Dan pastinya tidak mencukupi kebutuhan keluarga selama 3 bulan libur jualan” tambah wanita berumur 38 tahun ini.
“Sebenarnya 3 bulan lalu, saya dan teman-teman tidak mendapat himbauan untuk berhenti berjualan. Tapi sejak ditutupnya jalan raya dan taman alun-alun oleh pemerintah, pengunjung benar-benar sepi. Dan kami pun memutuskan untuk tidak berjualan dulu hingga pemerintah memberikan sinyal keadaan sudah kondusif. Dan untuk saat ini kami belum mendapatkan bantuan face shield dan masker dari pemerintah. Pastinya, saya dan teman-teman berharap kita semua bisa tetap sehat dan wabah ini segera berakhir jadi bisa menjalani kehidupan yang normal. Sudah cukup rasanya pusing memikirkan kehidupan selama 3 bulan ini mas”, ucapnya penuh harap.
Bagikan