Kamis, 27 Desember 2018 13:38 WIB
Penulis:AZ

Halopacitan, Pacitan—Berbagai bentuk dan ukuran pipa pun muncul. Dari yang sederhana hingga yang berbentuk keris. Situasi hampir mirip dengan ketika terjadi tren batu akik beberapa waktu silam.
"Sekitar satu bulan terakhir ini, dan setiap orang itu tidak hanya memiliki satu buah pipa saja, tapi bisa dua hingga empat lebih, biasanya kalau bosen satu ganti lainnya, seperti batu akik dulu bosen pakai ini ganti yang itu," katanya Muji (62), warga Dusun Nglebengan, Desa Menadi, Pacitan, salah satu pengrajin pipa. Ia mengatakan, demam pipa dari batang kayu atau akar telah menjadi tren dikalangan perokok di Pacitan. Terutamanya bapak-bapak.
Menurutnya, merokok menggunakan pipa terasa cukup berbeda, terutama tidak terasa panas di bibir dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi yang memakainya.
"Pernah saya tanya sama Gus Muad [salah satu pengasuh Pondok Tremas] yang juga sering ke sini buat pipa, katanya itu 'kebanggaan dan kenikmatan' Jadi kalau kebanggaan memang kayunya harus bagus dan buatnya juga harus baik," ungkap pria yang sebelumnya hanya menjadi tukang kayu.
Kayu atau akar yang sering digunakan untuk pipa tersebut diantaranya kayu secang, akar galih asem, kayu mawar, kayu nogosari dan sebagainya. Namun, bahan yang paling sulit didapat yakni kayu nogosari dan mawar. Sedangkan untuk pembuatannya sendiri juga cukup rumit, karena diperlukan waktu satu hari untuk membuat satu pipa, terutama untuk pipa berukuran 30 centimeter lebih.
"Yang lama itu ngebornya, apalagi kalau yang pipa panjang itu setengah hari baru kelar, karena memang butuh ketelitian dan hati-hati kalau tidak bisa rusak bahannya, kalau rusak kan kita yang ganti apalagi kalau bahannya mahal seperti kayu nogosari sekitar Rp500.000, kadang saya lebih memilih mengulur waktu saja agar hasilnya maksimal," ujarnya.
Lebih lanjut, Muji yang dibantu satu karyawannya mengatakan bahwa, dalam membuat pipa tersebut hanya manual, kecuali saat melubangi yang memakai bor mesin. Bahkan, dibutuhkan perasaan yang tinggi untuk membuat pipa tersebut, terlebih pesanan orang-orang berbeda-beda bentuknya dan rata-rata segi delapan.
"Soalnya kalau menggunakan mesin tidak akan bisa sempurna, harus manual untuk membentuk pipanya, setelah dilubangi kemudian dibentuk menggunakan amplas kasar hingga permukaan halus, finisingnya di oles lem kemudian diamplas lagi sampai mengkilat dan halus," terangnya.
Upah yang dipatok dalam membuat satu pipa yakni Rp100.000, untuk ukuran standart sekitar 15 centimeter. Sedangkan untuk ukuran besar dibandrol sekitar Rp200.000. "Saya samakan dengan buruh harian saja, awalnya hanya disuruh buatin pipa, malah banyak yang pesan sekarang, terutama pegawai daerah dan pesanan dari luar kota juga ada," imbuh Muji.
Sementara Iwan M, perajin rumahan di RT 03, RW 02 Dusun krajan, Desa Menadi mengungkapkan karena lagi marak-maraknya ia juga turut membuat pipa rokok tersebut. "Ini juga lagi buat dari galih asem, kalau jadi harga sekitar Rp100.000, kalau kayu secang sekitar Rp30.000-Rp50.000," katanya kepada Halopacitan.
Ia juga mengakui cukup sulit untuk mendapatkan bahan dari kayu nogosari dan mawar. Iwan berbeda dengan Muji yang membuat untuk pesanan saja, namun pipa yang dibuatnya tersebut saat ini hanya untuk koleksinya sendiri, akan tetapi jika ada yang menginginkan pipa karyanya tersebut juga akan dijualnya.
Bagikan