Strategi Aman Investasi Saham di Tengah Gencatan Iran-AS

Kamis, 16 April 2026 12:44 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

Cara Aman Investasi Saham Saat Gencatan Senjata Iran-AS Goyang
Cara Aman Investasi Saham Saat Gencatan Senjata Iran-AS Goyang

JAKARTA - Pasar saham global segera menunjukkan tanda pemulihan setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada 7 April 2026.

Sentimen positif ini langsung berdampak pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami kenaikan signifikan hingga kembali menembus level psikologis 7.000.

Pada perdagangan 8 April 2026, IHSG tercatat naik 3,39% ke level 7.207, setelah sebelumnya bergerak di bawah 7.000 selama beberapa waktu. Penguatan ini juga didukung aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar saham domestik.

BACA JUGA: Kenali Apa Itu Sunk Cost Fallacy yang Bisa Bikin Rugi Investasi

Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan net buy sekitar Rp1,01 triliun dalam satu hari, menandakan meningkatnya kembali kepercayaan terhadap pasar negara berkembang setelah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Optimisme tersebut juga terlihat di bursa global. Indeks saham di Amerika Serikat menguat signifikan, dengan Dow Jones Industrial Average naik 2,85%, Nasdaq Composite naik 2,8%, dan S&P 500 menguat 2,51%. 

Di kawasan Asia, penguatan bahkan lebih tajam, di antaranya KOSPI Korea Selatan yang melonjak 7,07% serta Taiwan Stock Exchange Weighted Index yang naik 4,61%.

Sentimen positif ini juga dipicu oleh penurunan tajam harga minyak dunia. Harga minyak acuan Brent Crude Oil dilaporkan turun hampir 13% setelah tercapainya gencatan senjata, meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global akibat konflik energi.

Baca juga : Israel Serang Lebanon, IHSG Anjlok 50 Poin di Pembukaan Hari Ini

Target IHSG Berpotensi Tembus 7.700

Sejumlah analis melihat momentum positif ini dapat membawa IHSG melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai indeks berpotensi bergerak menuju 7.450–7.500 jika mampu menembus resistance di level 7.400 dengan dukungan volume perdagangan yang kuat.

Sementara itu, analis dari BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan IHSG dapat menguji level 7.500 dalam waktu dekat. Jika berhasil ditembus, penguatan berpotensi berlanjut menuju 7.580 hingga 7.700.

Pandangan serupa juga disampaikan analis Kiwoom Sekuritas Indonesia yang melihat potensi kenaikan hingga 7.600 apabila indeks mampu melewati level teknikal penting di 7.325.

Dalam jangka lebih panjang, proyeksi IHSG bahkan bisa lebih tinggi. Co-founder Pasar Dana, Hans Kwee, memperkirakan indeks berpotensi menuju 10.000 dalam skenario optimistis dalam 12 bulan ke depan, dengan skenario konservatif di sekitar 7.500.

Sementara itu, lembaga investasi global JPMorgan memproyeksikan target dasar IHSG di 9.100 pada akhir 2026, dengan asumsi pertumbuhan laba perusahaan sekitar 8% dan valuasi pasar sekitar 15 kali earnings.

April Historisnya Positif untuk IHSG

Selain faktor geopolitik, momentum pasar juga didukung pola historis pergerakan IHSG. Secara statistik, periode November hingga April dikenal sebagai musim yang relatif bullish bagi pasar saham Indonesia.

Data historis menunjukkan:

  • Rata-rata return periode November–April mencapai 13,15% sejak 1995
  • Dalam 10 tahun terakhir, rata-rata return periode tersebut sekitar 5,3%
  • Namun dalam lima tahun terakhir kinerja bulan April lebih bervariasi dengan rata-rata penurunan 1,5%
  • Pada April 2026 sendiri, pergerakan IHSG menunjukkan volatilitas tinggi.
  • Pada 1 April, indeks sempat naik 1,93% ke 7.184 setelah tanda-tanda de-eskalasi konflik muncul. Penguatan kemudian berlanjut pada 8 April setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan.

Sektor Saham yang Berpotensi Diuntungkan

Beberapa sektor diperkirakan menjadi penerima manfaat dari kondisi pasar saat ini. Di sektor energi dan komoditas, sejumlah analis menyoroti peluang pada saham seperti,

  • PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
  • PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)
  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
  • PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

Selain itu, saham perbankan berkapitalisasi besar juga dinilai tetap menjadi pilihan defensif karena fundamentalnya kuat. Beberapa yang sering menjadi incaran investor antara lain:

  • PT Bank Central Asia Tbk
  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
  • PT Bank Mandiri Tbk

Di sisi lain, sektor transportasi dan logistik berpotensi mendapatkan manfaat dari turunnya harga energi. Community Lead IndoPremier Sekuritas, David Kurniawan Soebekti, menilai penurunan harga avtur dapat meningkatkan margin perusahaan penerbangan dan logistik.

Baca juga : Krisis Ekonomi di Depan Mata jika Gencatan Senjata Iran-AS Batal

Pembalikan Arah

Meski pasar merespons positif gencatan senjata, sejumlah analis mengingatkan bahwa kesepakatan tersebut masih sangat rapuh. Terbukti, Kamis, 9 April 2026, pasar goncang kembali pasca Iran menutup kembali selat Hormuz sete;ah Israel membombardir Beirut Lebanon, Rabu malam, 8 April 2026.

"Retorika kasar, arogan, dan ancaman tak berdasar dari presiden AS yang delusional tidak berpengaruh terhadap kelanjutan operasi penyerangan dan penghancuran yang dilakukan para pejuang Islam terhadap musuh Amerika dan Zionis," tegas Khatam al-Anbiya, juru bicara militer Iran, dilansir kantor berita Tasnim, Kamis, 9 April 2026.

Chief Economist William Buck, Besa Deda, menilai optimisme investor saat ini masih bersifat hati-hati karena konflik dapat kembali memanas sewaktu-waktu.

Pandangan serupa disampaikan Head of Research K2 Asset Management, George Boubouras, yang menekankan bahwa stabilitas pasokan energi global masih menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar.

Jika konflik kembali meningkat dan harga minyak melonjak hingga US$130–150 per barel, Hendra Wardana memperkirakan IHSG berpotensi kembali turun menuju kisaran 6.800-6.900.

Strategi Investor

Di tengah ketidakpastian geopolitik, sejumlah analis menyarankan investor untuk tetap berhati-hati.

Branch Manager Panin Sekuritas, Elandry Pratama, merekomendasikan strategi buy on weakness atau akumulasi bertahap pada saham dengan fundamental kuat.

Investor juga disarankan mengombinasikan saham defensif seperti perbankan dengan saham siklikal yang diuntungkan oleh harga komoditas.

Selain itu, perkembangan geopolitik global perlu terus dipantau karena pasar saat ini sangat sensitif terhadap berita terkait konflik internasional.

Dengan kondisi tersebut, momentum penguatan IHSG masih terbuka, namun volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi selama ketegangan geopolitik global belum sepenuhnya mereda.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 10 Apr 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 16 Apr 2026