Selasa, 19 Februari 2019 07:54 WIB
Penulis:AZ

Halopacitan, Arjosari—Tidak tanggung-tanggung, anggota korps baju cokelat yang bertugas di Polsek Arjosari, Pacitan tersebut kini telah memelihara 15 berbagai jenis. Di luar jam kerjanya sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat, Rosid bergulat dengan binatang ternak yang terlihat cukup sehat tersebut.
Sapi dan beternak memang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. Ketika masih sekolah dasar, dia mengaku sudah senang memelihara ternak. Hobi ini terus dibawa hingga sekarang sekaligus untuk menambah pendapatan.
"Sejak kelas tiga SD sudah mulai beternak, tapi pelihara kambing, lama-lama berkembang, ketika SMP itu sama Bapak ditukar sapi hingga SMA, setelah lulus selang satu tahun baru mendaftar Polisi dan angkatan pertama di Madura tahun 2001," ujarnya, saat ditemui Halopacitan, di sela-sela memberi pakan ternak, Senin (18/02/2019) sore.
Selama penempatan di Madura yang kurang lebih sembilan tahun sebelum akhirnya kembali ke kampung halaman, ia mengaku vakum (berhenti) dari hobi memelihara hewan ternak tersebut. Hal itu, menurutnya, sangat berat.
"Selama di sana [Madura], ya cukup terasa tanpa menghasilkan apa-apa dan banyak waktu terbuang sia-sia, biasanya di waktu senggang itu ke kandang,” katanya.
Kesempatan terbuka lagi ketika akhirnya dia dipindah ke Polsek Arjosari pada November 2009 dan pada sekitar tahun 2013 dia mulai lagi menyalurkan hobinya itu. Awalnya, dia hanya membeli satu sapi, namun dalam waktu sekitar lima tahun, kini sudah ada 15 ekor yang ada di kandangnya.
Adapun jenis sapi yang dipelihara seperti limusin, simental dan PO dengan harga jual per sapinya antara Rp30 juta hingga Rp50 juta lebih. "Biasanya saya mulai memelihara sapi itu usia 17, 19 bulan dan jualnya sekitar 5-6 bulan perawatan dari mulai memelihara," paparnya.
Tentu saja ada suka dukanya menjalani profesi polisi dengan beternak sapi dalam jumlah cukup besar ini. Salah satunya ketika terjadi banjir bandang November 2017 silam, selain harus menjalankan tugasnya sebagai polisi membantu mengevakuasi warga, rumahnya yang hanya berjarak sekitar 2-4 meter dari anak Sungai Grindulu juga tergenang air menjadikan seluruh pakan ternak rusak dan sudah bercampur lumpur.
Dari kejadian itu, untungya sebagian sapi-sapinya telah diungsikan ke tempat pekerjanya di Dusun Banyuripan Arjosari, namun ia masih mengalami kerugian yang cukup besar.
"Alhamdulillah saat ini sudah berangsur-angsur mulai pulih. Kendalanya cuma pakan mahal saat ini, dan Pacitan belum ada pabrik sentrat," katanya.
Rosid sapaan akrabnya menceritakan, meski banyak orang yang bilang kepadanya 'terlalu nekat' karena sudah mendapat penghasilan dari profesi yang dijalaninya saat ini. Namun, Rosid selalu ingat apa yang disampaikan dari kedua orang tuanya sejak kecil, mengingat tidak memiliki sawah maupun kebun.
"Orang tua dulu hanya pedagang, mulai dari SD saya dimodali kambing untuk sekolah. Dulu itu sebenarnya saya ingin berontak, karena teman-temanku dolan [bermain] saya ngarit [cari rumput], tetapi dari situ saya banyak belajar," ungkapnya.
Bahkan, selain berternak sapi dan setelah menjadi Polisi pun saat ini ia juga menjual rumput gajah untuk pakan ternak dan tentunya memanfaatkan rumah yang berada persis berhadapan dengan jalur utama Pacitan-Ponorogo yang memang cukup strategis untuk berwirausaha. "Kadang rumputnya itu malah yang nunggu istri saya," kata Bapak tiga anak.
Meski tidak mau mengatakan berapa penghasilannya dia mengatakan usaha yang dijalaninya demi sedikit sudah bisa dinikmati. "Kalau menikmati mungkin belum bisa dibilang sepenuhnya, karena masih ada tanggungan di bank ya belum aman, karena kalau sekali mbleset [tergelincir] ya totalan [rugi banyak], tapi kalau sekadar untuk beli bakso saja ya ada," katanya merendah. Salut Pak Pol!
Bagikan