30 Tahun Buta, Muktir Sangat Ingin Melihat Wajah Cucu
Halopacitan, Pacitan—Pria berusia 70 tahun tersebut, telah dikaruniai tiga anak, dari pernikahannya dengan Sutini (65). "Anak saya tiga, yang satu di Mlati yang dua di sini, kalau cucu saya lima. Saya hanya berharap, di sisa umur saya ini, ingin melihat wajah cucu-cucu saya itu seperti apa, walau setiap hari dengar suaranya dan meraba-raba wajahnya," kata Muktir, saat ditemui Halopacitan, Kamis (13/12/2018).
Muktir menceritakan, kebutaan yang dialaminya sekitar 30 tahun lalu bermula mencabut pohon singkong di depan rumahnya. Saat dicabut, batang ketela yang sudah dihilangkan daunnya itu mengenai mata sebelah kirinya.
"Luar biasa sakitnya. Saat itu anak saya yang nomor tiga Suyatno itu baru berusia empat bulan sekarang sudah sekitar 30 tahun," terangnya menggunakan bahasa Jawa.
Selama kurang lebih selama tujuh bulan dia merasakan sakit. Berbagai upaya dilakukan tak juga membawa hasil.
"Sempat tidak sakit tetapi sebentar saja, kemudian selama tujuh bulan sakit dan mata mengeluarkan air terus. Saya bawa ke dukun segala di beberapa tempat katanya kalau sakitnya bisa sembuh tapi kalau untuk melihat tidak bisa disembuhkan," ungkapnya.
Dia pun hanya bsa pasrah menerima apa yang telah menimpanya. Meski demikian ia pun masih berusaha agar tidak merasakan sakit. "Pasrah saja, terakhir itu ke Mbah Katiyem [seorang dukun] di Tinatar, baru sembuh sakitnya. Tapi lama-kelamaan mata yang kanan juga ikut tidak bisa melihat," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, setelah tidak bisa melihat apa-apa, karena anak masih kecil-kecil, ia sebagai kepala rumah tangga dan menjadi tulang punggung keluarga, ia pun mulai bangkit dan bekerja kembali di ladang yang dimilikinya, baik untuk menanam singkong ataupun lainnya.
"Setelah saya pikir, kalau cuma untuk mencangkul saja masih bisa, akhirnya sama istri dituntun ke ladang, istri yang membersihkan tempat, saya yang cangkul, sedang yang nanam istri saya, dan kalau ladang sudah ada tanamannya saya tidak bisa rawat, istri yang merawat tanamannya sampai panen," terang Muktir.
Sutini, istri Muktir membenarkan bahwa kemana-mana selalu dituntunnya menggunakan batang kayu sepanjang 1,5 meter, baik untuk ke ladang, mengambil air dan lainnya.
Meski demikian, dengan kondisi Muktir yang tidak bisa melihat dan tidak bisa bekerja secara maksimal. "Dulu waktu masih damang [bisa melihat] dan gagah saya mau jadi istrinya, sekarang kondisi seperti ini saya pun masih mau jadi istrinya, itu sudah kewajiban saya sebagai istri menyayangi suami apapun keadaannya, apalagi sudah punya tiga anak dan cucu," ungkap Sutini sembari mengelap peluh di mata Muktir yang setiap saat masih mengeluarkan air mata.
Sutini yang bekerja sebagai buruh lepas, juga mengaku ikhlas merawat suaminya, meskipun ia juga harus menjadi tulang punggung keluarga. "Mudah-mudahan keinginannya untuk melihat cucu terwujud," imbuhnya.
