Bawaslu Perlu Perhatikan Hasil Survei untuk Pengawasan Partisipatif lebih Efektif

Halo Berita 30 Nov 2019, By Rahmat DS
Bawaslu Perlu Perhatikan Hasil Survei untuk Pengawasan Partisipatif lebih Efektif (halopacitan/istimewa)

Persiapan PILKADA Bupati terus dilakukan oleh Bawaslu Kabupaten Pacitan. Mulai rekruitmen bakal calon anggota panwascam sampai dengan penyiapan perangkat pengawasan, salah satunya dengan merangkul elemen milenial, usia 20-30 tahun untuk mengikuti Sekolah Kader Pengawasan Partisipatif yang dilaksanakan tanggal 27- 28 November 2019.

Memasuki hari kedua, beberapa praktisi memberikan materi. Peserta dengan sangat antusias megikuti setiap sesi karena bagi mereka ini adalah ilmu yang belum atau jarang didapat. Aris, salah satu peserta Sekolah Kader memberikan resposns positif terhadap kegiatan tersebut, karena ia menjadi lebih tahu bagaimana sebenarnya pemuda sebagai bagian dari masyarakat dapat memberikan andil dan berkontribusi positif terhadap peyelenggaraan PEMILU maupun PILKADA.

“Saya sangat senang degan materi hari ini, terlebih materi tentang manajemen koflik yang disampaian Ibu Dr. Sri Pamungkas,M.Hum. Kami merasa tergugah bahwa sebagai kaum milenial yang salah satu cirinya adalah out of the box tidak seharusnya kami menjadi generasi pengekor, tetapi kami harus menjadi pelopor bagi remaja seusia kami untuk bersama-sama mengawal PEMILU dan PILKADA karena apa pun hal tersebut menentukan nasib bangsa. Selain itu, kami pun mendapatkan bekal bagiaman teknik berkomunikasi yang baik sehingga komunitas basis yang tercipta adalah komunitas yang benar-benar berdaya guna, demi penegakan demokrasi”, ungkap Aris, kepada halopacitan (28/11/2019).

Krisna Astia, sebagai salah satu kader pengawasan partisipatif mewakili kaum perempuan juga memberikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. “Hanya saja, mungkin ke depan lebih di manajemen lagi terutama dalam pengelolaan waktunya, sehingga semua materi terserap dengan baik dan peserta medapatkan porsi lebih untuk berinteraksi”.

Dikonfirmasi terpisah, Dr. Sri Pamungkas,  menyampaikan bahwa sekolah kader partisipatif yang digagas oleh Bawaslu RI ini merupakan salah satu langkah maju bagaimana memberikan pendidikan politik yang baik kepada generasi muda. Dari gesture, mimic dan juga perform para peserta saya optimis mereka akan menjadi kader-kader handal terlebih mereka juga sudah berpengalaman di organisasi masing-masing.

“Secara psikologis, batasan usia peserta sekolah kader antara 20 sampai dengan 30 tahun tidak lain adalah karena mereka adalah pemuda milenial yang lahir antara tahun 1981-1995. Ciri pemuda milenial antara lain adalah optimistik, idealis, selalu rindu tantangan baru, mampu bekerja sama dengan baik, out of the box, penuh kreativitas, inovatif, tidak gagap teknologi. Harapannya, dengan mereka menjadi bagian pengawasan partisipatif maka mereka akan berani menyampaikan hal yang benar dan akan terus berupaya menyebarkan virus kebaikan berdasarkan idealisme mereka, utamanya dalam hal tugas mereka sebagai kader pengawasan partisipatif”, tutur Dr. Sri Pamungkas, M.Hum., pada halopacitan.

“Kegiatan seperti ini saya harapkan tidak berhenti sampai di tingkat kabupaten saja. Program nasional Bawaslu RI ini benar-benar harus terejawantahkan dalam penyelenggaraan PEMILU maupun PILKADA, jadi walaupun kader-kader terpilih nanti ada yang akan mengikuti kegiatan Sekolah Kader Pengawasan Partisipatif di Tingkat Provinsi bahkan nasional, jangan lupa mareka harus mau berbagi ilmu dengan teman-teman lainnya. Demikian juga dengan pemuda-pemuda yang 2 hari ini mendapatkan materi, wajib menyebarkan ilmu tersebut kepada komunitas basis darimana mereka berasal. Dengan demikian, sampai dengan tingkat lingkungan akan terawasi dengan seksama sehingga yang terjadi adalah PEMILU dan PILKADA yang jujur, adil dan bermartabat”.

Dalam hal teknik atau metode sosialisasi, Pamungkas menyarankan agar Kader Pengawasan Partisipatif untuk melakukan identifikasi wilayah, termasuk budaya dan lain-lain sehingga akan ditemukan formula yang tepat. Bila mengadopsi hasil survey bawaslu RI tentang bagaimana masyarakat mengetahui BAWASLU adalah melalui Televisi dan yang kedua adalah dari media sosial serta portal media online, dan seterusnya. Mencermati hasil survey tiga besar tersebut maka sudah sepantasnya Bawaslu Kabupaten Pacitan juga megadopsinya. Pamungkas menyarankan untuk dibuat alat sosialisasi berupa film pendek bertema penyelamatan PILKADA, misalnya, tolak politik uang, andai kertas suara bisa bicara, dan lain-lain. Selain itu, Bawaslu harus terus mensosialisasikan setiap kegiatannya kepada media baik online mapun cetak sehingga tidak ada jarak antara Bawaslu dengan masyarakat. Dengan kinerja yang sungguh-sungguh, elemen yang pas juga metode yang tepat maka PILKADA sebagai iven besar yang akan digelar pada 23 September 2020 nanti benar-benar akan terkawal dengan baik dan calon terbaiklah yang akan terpilih.

 

undefined

SP