Budianto, Pegusaha Cincau Hitam, Tetap Eksis di Tengah Pandemi

Halo Warga 3 Jul 2020, By A. Tri Armasyah
Budianto, Pegusaha Cincau Hitam, Tetap Eksis di Tengah Pandemi (halopacitan/A. Tri Armansyah)

 Budianto (50 tahun) warga Dusun Gayam Desa Sidomulyo Kecamatan Kebonagung terus menekuni usaha rumahan cincau hitam. Di tengah kesibukannya sebagai Pengawas Pemilihan Kecamatan Kebonagung ia terus berusaha untuk membagi waktu, meneruskan usaha keluarganya yang turun temurun.

Jumat (03/07/2020) halopacitan berkunjung ke rumah Budi. Di samping rumahnya tampak sebuah tong besar dengan pipa kecil berkeran di bagian bawahnya. Di dalam tong tersebut berisi cairan hitam mendidih dan berdiri di atas tungku perapian yang menyala. Seorang anak perempuan berumur belasan tahun sedang mengambil buih di permukaan cairan mendidih dengan menggunakan saringan. Disisi lain, tampak beberapa tong dan panci ukuran besar tergeletak di atas tungku yang tidak menyala. Tentu hal ini terlihat menarik dan mengusik banyak pertanyaan.

Mas Budi, begitu biasa kami memanggilnya, mulai menuturkan apa yang sedang dia dan anaknya lakukan. “Ini cuma usaha rumahan produksi cincau hitam atau biasa disebut janggelan yang sudah turun temurun saya lakukan. Untuk produksi harian, saat ini hanya untuk pasar lokal saja. Dalam sehari hanya bisa satu tong besar ini jadi 8 ember ukuran 10 liter.  Karena orang yang biasa membantu saya, kemarin setelah lebaran merantau ke Kalimantan,” ucapnya dengan gaya khas yang tegas.

“Saat bulan Ramadhan kemarin, permintaan pasar sangat besar. Bisa sampai 30 ember dalam sehari. Itupun hanya permintaan pasar sini saja. Untung saat itu masih ada satu orang yang membantu, jadi permintaan pasar bisa kita penuhi. Kalau untuk pemasaran, sudah ada distributor yang mengambil ke rumah dan membawanya ke pasar Gawang. Sore baru saya ambil hasilnya atau mereka kirimkan ke rumah. Kalau untuk 1 embernya biasa dipatok harga Rp 75ribu” tutur pria bergelar  Sarjana Pendidikan ini.

 “Dulu pernah ada permintaan pasar, untuk pasar Punung dan Wonogiri, tapi dengan harga yang sama per-embernya cuma bisa menutup modal dan distribusi, jadi tidak saya teruskan. Untuk bahan baku sendiri, tiap produksi satu tong butuh 6 kg daun cincau kering yang digiling halus. Buih yang terbentuk saat mendidih dan kita ambil pakai saringan, itu proses untuk mengambil residu daun cincau yang terlalu besar ukurannya.”

Tak terasa sudah 2 jam kami berbincang, dan cairan di dalam tong tampak mengental. Setelah mengecilkan api di tungku, Budi pun mulai mengaduk cairan tersebut agar tidak  mengeras. Kemudian dia membuka keran di bagian bawah tong dan mulai mengisi ember yang sudah dipersiapkan.

“Kalau saat ini, cuma produksi harian saja yang saya lakukan. Mungkin besok kalau tahapan pemilihan kepala daerah sudah mulai padat jadwalnya, saya minta seseorang untuk membantu proses produksi”, ucap Budi yang juga aktif di pengawasan pemilihan Kecamatan kebonagung sejak tahun 2004 hingga sekarang.

undefined

SP