Dboecah’s dan Komunitas Menulis, Suntikkan Virus SLGP untuk Kokohkan Literasi

Halo Pendidikan 11 Nov 2019, By Deny Aprilia
Dboecah’s dan Komunitas Menulis, Suntikkan Virus SLGP untuk Kokohkan Literasi  (Halopacitan/Deny Aprilia)

Sabtu (09/11/2019) Komunitas Menulis Pacitan bekerja sama dengan CLC (Community Learning Center) Dboecah’s Pacitan menggelar  SLGP (Sekolah Literasi Gratis Pacitan) angkatan pertama. Sekolah literasi angkatan pertama ini dikhususkan untuk mahasiswa yang berada di seputaran Kabupaten Pacitan.

 

Sekolah Literasi Gratis Pacitan (SLGP) digagas oleh Dr. Sri Pamungkas, M.Hum., yang merupakan Ketua Komunitas Menulis Pacitan dan ouner Lembaga Pedidikan Karakter Anak Dboecah’s Pacitan. Bertempat di Sanggar Dboecah’s yang beralamatkan di Jl. Yos Sudarso No. 19 Bangunsari Pacitan, Sekolah Literasi ini dimulai pada pukul 14.30 – 16.30 WIB.

 

“Saya terinspirasi kolega saya sekaligus mentor saya, Dr. Tejo, Beliau lebih dulu mendirikan Sekolah Literasi Gratis di Kabupaten Ponorogo. Keinginan ini sudah lama namun baru bisa saya wujudkan. Saya masih terus mencari cara bagaimana pascapelatihan karya siswa di Sekolah Literasi ini bisa diterbitkan. Alhamdulillah ada penerbit yang siap mewadahi karya adik-adik secara gratis sehingga kerja keras dan impian mereka untuk mempunyai buku yang diterbitkan nasional akan dapat terwujud”, ungkap Doktor bidang Linguistik lulusan UNS (Universitas Sebelas Maret Surakarta) tersebut. 

 

“Enam tahun sudah saya dan suami mengelola sanggar Dboecah’s dengan program unggulan  kelas penulis cilik dan remaja serta kelas ekspresi. Alhamdulillah telah lahir penulis-penulis cilik berskala nasional dari sanggar kami, yang bukunya diterima di hati anak-anak seusia mereka (Sekolah Dasar). Buku KKPK terbitan Mizan Bandung, The Winner, Misteri 109, Manusia Sejuta Fobia, From Hater to Lovers, Komik NextG Nggak Usah Buru-buru dan lain-lain adalah karya siswa kami. Bulan Juli 2019 menjadi sejarah baru, Pekan Literasi Siswa SD dan TK yang kami selenggarakan untuk mengisi liburan sekolah disambut luar biasa oleh orang tua siswa, terbukti ratusan anak mengikuti kegiatan tersebut. Dari situlah kami berpikir bahwa tidak mungkin saya berjalan sendiri dan akhirnya terbentuklah Komunitas Menulis Pacitan”, tutur Dosen STKIP PGRI Pacitan tersebut kepada halopacitan (Sabtu/9/11/2019).

 

Dr. Sri Pamungkas, S.S., M. Hum., memaparkan gagasan mendirikan SLGP (Sekolah Literasi Gratis Pacitan) ini adalah untuk merangsang remaja meningkatkan daya bacanya dan punya kemauan menulis. “Rata-rata pada saat di SD rajin menulis tetapi begitu masuk SMP, SMA dan kuliah mulai surut. Ada juga yang rajin menulis tetapi macet ide dan tidak dilanjutkan. Saya berpikir bahwa mereka butuh pendampingan”, lanjut Ibu dua orang anak itu.

 

Kedepannya, Sekolah Literasi Gratis Pacitan akan dibuka per angkatan dengan target 20 siswa per kelas. “Project SLGP angkatan pertama ini adalah menulis cerpen tema bebas  dengan rata-rata capaian 50-70% . Dua minggu ke depan insyaallah dummy buku hasil karya adik-adik ditargetkan akan selesai. Oleh karena itu, minggu ini akan dibuka pendaftaran untuk siswa SLGP angkatan kedua untuk peserta mahasiwa, siswa SMA dan umum. Pendaftaran sewaktu-waktu ditutup apabila telah memenuhi kuota 20 orang”, ungkap perempuan yang bukunya pernah mendapatkan penghargaan sebagai lima buku terbaik bidang bahasa dan hukum Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tersebut.

 

Erlangga Retanto, salah satu siswa SLGP megungkapkan ketertarikannya mengikuti kelas menulis ini karena dulu pernah belajar menulis, ada keinginan untuk membuat novel, namun berhenti di tengah jalan karena tidak ada mentor. “Kemudian tahu informasi bahwa ada Sekolah Literasi saya sagat tertarik supaya novel yang dulu pernah saya tulis bisa berlanjut”, jelasnya. “Setelah mengikuti kelas menulis, semangat menulis itu ada lagi, ada mentor yang mengarahkan dapat memunculkan ide dan jalan cerita yang dulu sempat berhenti, tambahnya.

 

Puput Anita Sari, siswa lain juga mengungkapkan bahwa berawal dari kegemarannya membaca cerita di wattpad sehingga menumbuhkan keinginan untuk menulis cerita sendiri. Oleh karenanya ia memutuskan untuk bergabung dengan Sekolah Litersi tersebut. 

 

Cerita hampir sama juga diungkapkan oleh Indiana Retnowati, bergabung dengan Sekolah Literasi karena ada keinginan untuk menulis, sebelumnya ia suka menulis namun berhenti di tengah jalan, setelah mengikuti kegiatan Sekolah Literasi ia mengaku lebih lancar memilih kata dan merangkainya menjadi sebuah kalimat.

 

 Ketertarikan sebagai konten kreator juga membawa Priya Arya Nova untuk bergabung dalam Sekolah Literasi tersebut. “Saat ini saya sedang menekuni literasi, saya tertarik untuk mendalami sebagai konten kreator, dan dalam prosesnya juga memerlukan penulisan naskah, untuk itu saya bergabung di Sekolah Literasi ini untuk menambah pengetahuan tentang literasi. Hampir keseluruhan siswa kelas menulis memiliki harapan dapat menciptakan karya, dan karya tersebut mampu diterbitkan. “Insyaallah semua itu dapat terjawab di Sekolah Literasi Gratis Pacitan, karena bukan hanya pendampingan menulis tetapi sampai dengan karya mereka diterbitkan”, tutup Pamungkas.

undefined

SP