Dengan Bambu Barino Mengubah Nasib Hidupnya

AZ - Selasa, 22 Januari 2019 12:28 WIB
Barino dan produk dari bambu dagangannya undefined

Halopacitan, Pacitan—Warga RT 01/ RW 01, Dusun Tanjung Kidul, Desa Tanjungsari, Pacitan ini tidak pernah membayangkan bisa meraih penghasilan Rp5 juta - Rp7 juta per bulan dari jualan bambu, baik bambu utuh maupun dalam bentuk kerajinan.

Setelah mendapat saran dari kakak kandungnya untuk berwirausaha, pada 2006 Barino memantapkan niat membuka usaha. Memanfaatkan rumahnya yang ada di pinggir jalan, bambu pun dipilih sebagai usaha utama.

Bambu dipilih karena Pacitan merupakan daerah yang memiliki tanaman beruas tersebut selain penjual bambu juga belum banyak. Dengan modal awal Rp15 juta yang dipinjamnya dari salah satu bank di Pacitan usahanya pun dirintis.

"Awalnya cuma cari bambu dan kerajinan dari perajin bambu di daerah Arjosari, Wonokarto, Tulakan dan sekitarnya, tapi lama-lama para perajin dan pemilik bambu sudah setor ke sini. Padahal sebelumnya belum terpikirkan usaha ini, tapi ya setidaknya bisa menampung perajin lokal,'' ujarnya saat ditemui Halopacitan, Selasa (22/01/2019).

Selain bambu utuh dia juga menjual berbagai bentuk kerajinan seperti gedhek, tirai bambu, kandang dan kurungan ayam, bak sampah, tangga, dan sebagainya. Setelah 2-3 tahun usahanya mulai lancar ia mulai menambah dengan jualan kayu seperti papan kayu, usuk, dan sebagainya.

"Kalau harga vareasi, ada yang Rp15.000 seperti gedhek, ada juga kerai mulai Rp80.000-Rp225.000, kandang ayam Rp200.000, semua tergantung ukurannya kalau harga," ungkap pria 54 tahun itu.

Dalam satu bulan, bapak dua anak ini bisa meraup omzet Rp5 juta sampai Rp7 juta. "Kalau pas ada proyek itu bisa lebih, tapi kalau tidak ada proyek ya sekitar itu. Kalau hari-hari biasa kadang pembeli tidak mesti kadang 2-3 orang, kadang tidak ada," katanya.

Tetapi seperti usaha pada umumnya, selalu ada rintangan yang harus dihadapi. Barino mengaku kerap ditipu pemborong ketika mengerjakan sebuah proyek yang kalau ditotal kerugiannya bisa mencapai Rp25 juta sampai Rp30 juta lebih.

"Saat proyek pembangunan stadion, awalnya beli bambu bayar cash, kedua bayar separuh, ketiga minta dengan jumlah banyak dan janji tanggal sekian di bayar, tetapi pas tanggal harus bayar dia menghilang. KTP-nya Surabaya, tetapi ternyata saya cek ke sana tidak ada, itu sekitar Rp5 juta lebih, tapi kalau proyek lainnya ada yang Rp2 juta-Rp4 juta itu ada puluhan orang," bebernya.Tetapi dia tak mundur dan memilih mengikhlaskan uangnya yang diambil orang.

Kerja kerasnya tak sia-sia. Dari hasil usahanya dia bisa menguliahkan anak pertamanya di AKN dan baru lulus beberapa bulan lalu, bahkan ia pun sedikit demi sedikit bisa menabung untuk membeli beberapa bidang tanah di Ploso, Bangunsari, serta rumah dan juga mobil.

"Malah anak saya setelah lulus kuliah ini mau buka usaha bambu saja, katanya cari kerja susah, akhirnya saya juga buka cabang di Krajan Ploso ditunggu anak saya. Tapi kalau saya amati, anak saya memang ada jiwa pebisnis, kalau yang nomor dua belum kelihatan baru kelas dua MTs," imbuhnya.

Barino, sekali lagi menunjukkan, bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama orang mau berusaha dan bekerja.

Bagikan

RELATED NEWS