IMG-LOGO
Home Halo Berita Duh, 80% Sawah di Pa...

Duh, 80% Sawah di Pagutan Gagal Panen

Tomi Herlambang - Kamis, 18 Juli 2019 pukul 00.01
Hanya sebagian kecil padi yang bisa dipanen Hanya sebagian kecil padi yang bisa dipanen (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan, Ajosari—Kekeringan yang melanda Pacitan membuat kalangan petani gigit jati. Bayangan mendapatkan hasil melimpah gagal total. Musim kemarau yang datang lebih awal membuat tanaman padi tidak tumbuh dengan subur. Bahkan di Desa Pagutan dan Gunungsari Kecamatan Arjosari bencana kekeringan membuat hampir 80% tanaman padi gagal dipanen.

Seperti yang dialami Samir, salah seorang petani di Dusun Krajan Desa Pagutan. Ia mengaku sawahnya bahkan tidak panen sama sekali karena kekeringan dan diserang penyakit. Berbagai upaya telah ia lakukan dari menyedot air di sumur tanam yang ada di sawah hingga berusaha menyedot air dari Sungai Grindulu.

"Air dari sumur ternyata tidak mencukupi, sedangkan saat mencoba ke sungai pompanya tidak kuat karena terlalu jauh," ucapnya. Samir terpaksa menyerah dan memanen padi yang sudah tidak berisi lagi untuk dijadikan pakan ternak.

Untuk memperoleh gabah sebagai cadangan makanan keluarga, ia dan istrinya terpaksa menjadi buruh panen di sawah milik salah seorang tetangganya. "Inipun hasilnya juga pasti kurang, biasanya sehari bisa dapat upah satu sak, kali ini setengahnya saja sudah alhamdulillah," sambungnya.

Hermanto, petani lain yang tinggal di Dusun Krajan Desa Gunungsari menyampaikan hal yang sama. Sawah sepetak berukuran 40x60 meter miliknya juga gagal panen. Bahkan ia menyampaikan kegagalan di Gunungsari hampir menyeluruh. Ia mengaku tanaman padi miliknya dijual kepada peternak dengan harga Rp200.000 . " Daripada tidak dapat duit sama sekali," keluhnya.

Tanaman padi gagal panenTanaman padi gagal panen (Halopacitan./Tomi Herlambang)

Menurut Hermanto, gagalnya panen tidak hanya terjadi di Desa Gunungsari, namun desa-desa sekitar juga terdampak. Hermanto mengaku,  rusaknya tanaman padi sudah ia ketahui sejak sebulan yang lalu, beberapa tanaman tampak meranggas. "Serangan belalang dan patah leher sudah muncul, separuh sawah sudah saya panen awal saya ganti jagung," lanjut Hermanto.

Saat ini Hermanto berharap janji bantuan asuransi dapat segera turun agar ia dapat segera membeli pupuk untuk kebutuhan tanaman jagung yang saat ini sudah mulai bersemi. "Kemarin dari petugas PPL dan Gapoktan mengatakan bahwa akan ada ganti rugi dari asuransi pertanian, semoga lekas turun agar bisa beli pupuk lagi, karena modal saya sudah habis," katanya.

Sementara saat diwawancarai di kantornya, Penjabat Kepala Desa Pagutan Agus Widodo membenarkan tentang kondisi petani di wilayahnya. Menurut Agus di Pagutan hampir 80% lahan pertanian di Pagutan mengalami gagal panen.

Dia menengarai musim penghujan yang pendek dan kemarau yang datang lebih awal menjadi faktor utama kegagalan tersebut. Padi yang kekurangan air, menurutnya, mudah diserang hama.

"Kami juga bingung, air dari irigasi yang biasanya mengalir saat musim tanam kedua tahun ini kering tidak ada airnya, mencoba pompa air juga tidak maksimal," ucap Agus sambil menghela nafas panjang. "Padahal sudah dua kali sawah di Pagutan ini pada saat musim penghujan juga gagal panen karena banjir," sambung Agus.