Eko Purwanto dan Budidaya Jamur Tiramnya

Halo Berita 3 Nov 2019, By Deny Aprilia
Eko Purwanto dan Budidaya Jamur Tiramnya (Halopacitan/Deny Aprilia)

Menerobos pedalaman Desa Gayuhan. Tepatnya di dusun Sidorejo tidak kurang 400 meter jaraknya dari jalan raya terdapat hal menarik yang bisa kita temui, yaitu Armiani Agroforestry. Sebuah wahana edukasi tentang beternak, berkebun dan kesehatan hewan serta pengelolaan hutan. 

Salah satu unggulannya adalah Budidaya Jamur Tiram. Eko Purwanto adalah penggagas, pelaksana sekaligus pemilik lokasi budidaya jamur tersebut. Tak hanya sekedar budidaya, namun jamur tiram tersebut, kini mampu menjadikannya sebagai supplier jamur tiram ke berbagai usaha pengolahan jamur tiram lainnya di Pacitan.

Ditemui pada Kamis (31/10/2019) di lokasi Armiani Agroforestry, ia kemudian membagikan cerita mengenai budidaya jamur tiramnya kepada halopacitan.

Eksistensi jamur tiram yang kian mendapat tempat di hati para konsumen, tak lain menjadi salah satu pertimbangan Eko untuk tertarik pada budidaya jamur tiram. Berbekal rasa ingin tahu, ia pantang menyerah bertanya dan mempelajari tentang bagaimana proses hingga teknik pemasarannya.

“Pada awalnya ada teman yang mengajari, kemudian sharing juga dengan teman budidaya jamur se-Pacitan tentang bagaimana cara dan mendapatkan  benihnya” ungkapnya. Di mulai pada tahun 2017, ia menceritakan bahwa usaha tersebut pada tahap awal sudah berhenti sekitar 2 bulan akibat bencana banjir yang menerjang Pacitan pada November 2017 silam. 

Kemudian berpegang pada kemantapan tekadnya, ia melanjutkan budidaya tersebut. Memulai rintisan awal dari pembuatan tempat, proses persiapan alat dan bahan hingga pada tahap pengukusan serbuk dan pembenihan ia lakukan secara mandiri. Hal tersebut masih berlangsung hingga kini yang sudah menginjak tahun ketiga ia bergulat dengan usaha budidaya Jamur Tiram tersebut. 

Ia mengungkapkan, untuk pemasaran sampai saat ini ia mampu memenuhi pasar lokal Pacitan, khususnya Pacitan kota. Saat disinggung mengenai kendala dalam usahanya, “Kalau kendala itu dari dulu sampai sekarang harga pasaran jamur itu tidak pernah naik, tetap pada angka 12.000/kg tetapi harga bahan bakunya seperti serbuk kayu, plastik dan yang lainnya itu semuanya naik” jelasnya.

“Untuk saat ini para petani jamur di Pacitan sendiri sudah mulai kesulitan mendapatkan serbuk kayu, karena di beberapa pabrik kayu yang biasanya kita beli serbuknya sudah dipesan duluan sama orang Ponorogo” tambahnya. “Sama satu lagi, terkadang para pembeli itu meminta harga di bawah standar, misalnya menawar untuk 1 kilonya Rp 10.000, mau tidak mau karena jamur itu kan panennya setiap hari, kalau hari ini tidak di panen besoknya akan rusak, walaupun banting harga tapi tidak ada pilihan lain, memang kadang itulah risikonya” jelasnya kemudian.

Namun dengan banyaknya kendala yang ditemui tidak membuat Eko berhenti menekuni usahnya terebut. “Kalau menurut saya, mungkin yang lain harus kerja panas-panasan, kalau di sini rindang, pada tempat tertutup, tidak kepanasan tidak kehujanan, itu sudah menjadi anugerah tersendiri untuk tetap menekuni usaha ini” jelasnya. 

Ia juga mengutarakan harapanya bahwa untuk ke depannya ia berharap ada semacam pengadaan koperasi atau suatu organisasi untuk bisa menampung, mengolah dan memasarkan hasi dari para petani Jamur Tiram itu. Ia juga berpesan “ Kalau mau memulai usaha itu yang pertama niat dan mau belajar. Jadi planning itu harus matang, setelah niat dan menentukan usaha apa yang harus di lakukan, kemudian pelajari dari awal sampai pemasarannya, setelah menguasai barulah mulai merintis perlahan sesuai batas kemampuannya. Yang pertama niat, modal itu nomor dua”. Jelasnya. “Percuma punya modal tapi tidak tahu cara mengeksekusinya” tambahnya memotivasi.

 

undefined

AZ