Harga Janggelan Melambung, Petani Bingung
Harga janggelan saat ini melambung tinggi, tetapi dalam situasi seperti ini para petani justru tidak berdaya.
Janggelan adalah salah satu tanaman perkebunan yang memiliki nilai jual tinggi dan perawatan yang cukup mudah. Di Pacitan, salah satu tempat budidaya janggelan yang biasa digunakan untuk jeli atau campuran es dawet adalah di Kecamatan Nawangan dan Bandar.
Saat ini harga tanaman sejenis rumput liar ini cukup tinggi yakni sekitar Rp30.000-Rp40.000. Jika sedang buruk-buruknya, harga janggelan bisa merosot hanya Rp.1000 per kilogramnya.
Namun kemarau panjang yang terjadi sekarang ini menjadikan petani harus menerima keadaan. Di saat harga begitu tinggi, panen tidak bisa diharapkan. Kemarau juga berimbas pada harga bibit janggelan bila musim tanam tiba.
“Jangelan mati semua bahkan sampai ke akarnya, hanya yang ditanam di persawahan atau dekat sumber air saja yang saat ini masih hidup” ujar Turiyem petani janggelan asal Desa Tokawi.
Petani berharap kepada pemerintah untuk memberikan perhatian kepada petani janggelan, khususnya pemberian bibit janggela saat musim tanam tiba, karena saat ini harga bibit janggelan di pasaran satu ikat mencapai Rp 200.000 yang akan memberatkan petani.
Menurut cerita tutur janggelan di wiayah Nawangan ada bersamaan dengan kedatangan orang-orang Tionghoa di wilayah tersebut pasca pemberontakan yang terjadi di Kartasura. Tanaman janggelan pada mulanya dianggap tanaman liar yang tumbuh bersama rumput-rumputan lainnya dan dianggap sebagai tanaman pakan ternak oleh penduduk setempat. Namun kini tanaman itu telah menjadi salah satu andalan petani untuk mendapatkan penghasilan.
Pemanenan tanaman janggelan dilakukan dengan cara dibabat setelah berumur tiga bulan atau saat menjelang berbunga. Batang dan daun hasil panen kemudian dijemur selama dua hari sampai kadar air kurang lebih tinggal 10 %.
