Keluhan Buruh Pacitan: Jangankan Nabung, Gaji Seperti Hanya Lewat Begitu Saja

AZ - Sabtu, 19 Januari 2019 12:00 WIB
Ilustrasi undefined

Halopacitan, Pacitan—Jawaban pertanyaan di atas tentu akan sangat subjektif dan vareatif karena tergantung bagaimana status seorang buruh apakah dia masih bujang atau sudah berkeluarga. Selain itu gaya hidup seseorang pun juga akan berpengaruh.

Halopacitan mencoba merangkum pendapat sejumlah buruh baik yang belum menikah ataupun sudah menikah. Rata-rata dari mereka mengaku upah yang didapat seperti hanya lewat saja atau masuk pos masing-masing, sehingga belum mencukupi kebutuhan, terlebih lagi menabung.

Alvianto (24) salah satu karyawan sebuah perusahaan di Pacitan mengatakan, setiap bulan menerima upah sebesar Rp1,7 juta. Gaji yang diterimanya tersebut hampir seimbang dengan besaran biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan.

Ia merinci, dalam setiap bulan biaya yang harus dikeluarkan, diantaranya untuk angsuran motor untuk bekerja sekitar Rp620.000 dan sudah sekitar 15 kali angsuran, kemudian untuk service dan ganti oli motor sekitar Rp100.000per bulan, bensin dua hari sekali Rp15.000, paket internet sekitar Rp100.000 lebih per bulan.

"Belum lain-lain misal ada sumbangan, dan kegiatan sosial lainnya, karena di kampung beda dengan di kota, dulu pernah kerja di kota setahun tetapi ya sama saja gaji lebih Rp2,5 juta pengeluaran juga besar apalagi untuk kos," bebernya Sabtu (19/01/2019).

Ia pun mencari tambahan untuk pendapatan dengan jualan online seperti handphone setengah pakai dan sebagainya. Hal itu dilakukannya karena ia tidak ingin bergantung dengan orang tua.

"Itupun tidak mesti, soalnya mau kerja lainnya belum bisa, karena waktu terbatas, setidaknya tidak minta ke orang tua," ungkapnya.

Erna S, (28) pekerja lain yang bekerja di sebuah pabrik mengaku gaji yang diterimanya seperti hanya lewat begitu saja. Bahkan ia harus menggali ke sana kemari untuk mencari tambahan guna mencukupi kebutuhan.

"Maklum sudah keluarga, kebutuhan juga beda dengan yang belum berkeluarga. Gaji suami yang buruh hanya untuk makan saja, makanya saya bantu kerja ini untuk menutup pinjaman dulu buat rumah dan angsur motor, inipun juga masih keteteran belum saku anak sekolah, anak minta ini itu dan lain-lain," beber ibu dua anak.

Meski demikian, ia masih bersyukur bisa membantu suami mencari penghasilan, terkadang ketika kebun yang ditanami palawija panen, dari situlah ia sedikit bernapas lega. "Untungnya masih punya kebun bisa ditanami, kalau tidak paling ya pinjam sana-sini, setelah gajian baru dikembalikan," imbuhnya.

Sementara, Bambang (21) mengatakan bahwa gaji yang diterimanya memang tidak berdasarkan UMK dan tidak mencapai Rp1 juta. Meski demikian, hal itu sudah menjadi kesepakatannya dengan perusahaan dimana ia kerja.

Ia mengakui jika setiap bulan memang selalu kekurangan. Akan tetapi, karena ia belum berkeluarga dan masih ikut orang tua, sehingga upah yang di dapatnya hanya untuk keperluannya saja dan digunakan seminimal mungkin, meski ia memiliki banyak keinginan.

"Kalau keinginan banyak, laki-laki kan calon bapak, sebisa mungkin dari upah itu dicukup-cukupkan, tapi sampai saat ini belum bisa nabung. Padahal merokok juga tidak, makan ya masih ikut orang tua, soalnya mau merantau tidak boleh akhirnya cari kerja seadanya di sini, inipun juga lama dapatnya kerjaan, maklum keahlian juga minim," katanya.

Bambang menambahkan, ia berencana untuk berwirausaha saja, hal ini menurutnya lebih efektif dari segi waktu dan tidak selalu diperintah. "Rencana mau bertani dan ternak saja nantinya, saya pikir di rumah ada kebun walaupun punya orang tua, cuma belum maksimal saja olahnya," imbuhnya.

Bagikan

RELATED NEWS