Literasi Indonesia Terjun Bebas

Halo Berita 12 Des 2019, By Rahmat DS
Literasi Indonesia Terjun Bebas 	(halopacitan/istimewa)

Literasi Indonesia berdasarkan data PISA  (Programme for Internatioal Student Assessment ) yang diumumkan The Orgnisation for Economic Co-operation ad Development (OECD) berada pada peringkat 72 dari dari 78 negara yang disurvei.

Penyerahan hasil PISA 2018 untuk Indonesia telah diberikan Yuri Belfali (Head of Early Childhood and Schools OECD) kepada Menteri Pedidikan dan Kebudayaan (Medikbud) Nadiem Makarim di Gedung Kemendikbud Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Dilansir dari Kompas.com Nadiem menuturkan, “ Kita tidak mungkin mengetahui apa yang harus kita perbaiki, apa yang harus kita lanjutkan  kalau kita tidak mendapat perspektif dari luar, apakah itu dari luar sekolah, luar kelembagaan kita baik luar negara kita”. Nadiem menekankan bahwa apa yang dikabarkan PISA hari ini, “Tidak perlu dikemas menjadi berita yang positif. Tidak perlu. Kita harus punya paradigm baru dimana semua pemimpin mulai dari kementrian sampai kepala sekolah, kalau ada sesuatu yang buruk, kita harus jujur dan langsung meng-addres dan bergerak”.

Kondisi literasi Indonesia berdasarkan hasil PISA tahun 2018 tersebut memang sangat mencengangkan karena Indonesia berada pada posisi 6 besar dari negara yang disurvei. Pergerakan yang belum begitu sinifikan dari hasil PISA tahun 2015  Indonesia berada pada 10 besar peringkat terbawah yaitu peringkat 62 dari 72 negara dengan rata-rata skor 395. Sementara rata-rata literasi Indonesia berdasarkan PISA tahun 2018 adalah 371, turun 24 point padahal jumlah buta huruf di Indonesia berdasarkan data BPS tahun 2018, 97,93% penduduk Indonesia dinyatakan tidak buta huruf dan tinggal 2,07% yang masih mengalami buta huruf. Namun demikian, hal tersebut belum memberikan sumbangan signifikan untuk literasi Indonesia lebih membaik.

Oleh karena itu, Komisi X mendorong agar pemerintah membuat trobosan karena Indoesia akan meghadapi bonus demografi dalam beberapa tahun medatang. Kalau hal tersebut tidak ditangani dengan serius maka tentu akan menjadi masalah besar. Dilansir dari kompas.com Huda (Komisi X DPR RI) mengatakan, “ Bonus demografi bisa menjadi bencana, jika ternyata SDM yang kita hasilkan dari Lembaga Pendidikan kita tidak mampu membekali mereka untuk bersaing di dunia kerja”. Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah-langkah untuk mempersiapkan generasi Indonesia seperti yang disampaikan Totok Suprayitno Kabalitbang Kemendikbud dalam paparannya yang dilansir dari kompas.com yaitu: (1) gunakan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi; (2) libatkan siswa dalam membaca; (3) tinggalkan membaca nyaring; (4) merangkum bukan menyalin; (5) perkaya jenis bacaan; (6) tumbuhkan kebiasaan membaca saat luang.

undefined

SP