Menjadi Orang Tua Hebat di Tengah Pandemi

Halo Pendidikan 29 Jul 2020, By Dr. Sri Pamungkas, M.Hum.
Menjadi Orang Tua Hebat di Tengah Pandemi (dokumen pribadi)

Sejumlah orang tua mengeluhkan ketika anak-anak untuk sementara harus belajar di rumah. Bukan saja orang tua tetapi sejumlah guru juga mengeluhkan hal yang sama. Mulai akses internet yang tidak lancar, masalah paketan yang boros dan mahal, fasilitas handphone, dan sejumlah hal yang di luar dugaan terjadi di tengah pandemi.

Seharusnya hal tersebut tidak perlu dikawatirkan karena rumahlah madrasah pertama bagi pendidikan anak. Di rumahlah cikal bakal pedidikan dilakukan, utamanya dalam hal pendidikan karakter yang harus dilakukan sejak anak usia dini. Pandemi mengajarkan pada kita bahwa di rumahlah sebenarnya semua dimulai, disemai dan kemudian tumbuh. Sembilan karakter dasar yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu (1) cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya; (2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian; (3) kejujuran/amanah dan diplomasi; (4) hormat dan santun; (5) dermawan, suka menolong dan gotong-royong/kerjasama; (6) percaya diri, kreatif, dan pekerja keras; (7) kepemimpinan dan keadilan; (8) baik dan rendah hati; (9) toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Membentuk karakter anak tentu tidak serta merta dengan 2-3 jam pelajaran. Keteladanan menjadi kunci, karena sejak anak di dalam kandungan hingga usia sekolah tentu ada waktu sekitar 7 tahun untuk membentuk itu semua. Tentu tidak berhenti sampai di situ tetapi orang tua sebagai role model harus terus berkelanjutan memberikan teladan. Selain itu, konsistensi sebagai orang tua, sinerginya antara ucapan dan perbuatan menjadi hal penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Sebagian orang tua mengeluhkan, pandemi telah menciptakan ‘generasi gadget’, belajar sebentar dan game yang panjang. Keluh kesah tersebut bertebaran di group-group WhatsApp. Terinspirasi tulisan pakar parenting, Adele Faber dan Elaine Mazlish dalam bukunya " Berbicara Agar Anak Mau Mendengar dan Mendengar agar Anak Mau Berbicara"  mengatakan,   bahwa ada hubungan langsung antara perasaan anak dan perilaku mereka. Yaitu "jika anak-anak merasa baik, maka perilaku mereka pun akan baik"

Hal tersebut tentu menjadi kunci, belajar dimana pun dan siapa pun pendampingnya, baik guru maupun orang tua sebenarnya tidaklah menjadi masalah. Anak harus dipersiapkan sebagai manusia-manusia pembelajar dengan prinsip, hidup untuk belajar bukan belajar untuk hidup. Orang tua yang menanamkan pemahaman pada putra putrinya bahwa hidup untuk belajar akan menginspirasi anak bahwa belajar targetnya semata-mata bukan masalah nilai, mendapatkan peringkat terbaik, dan lain-lain tetapi lebih kepada sebuah makna bahwa ada hal yang lebih besar dari sekedar nilai. Selain itu, ketika anak berprestasi, anak mendapatkan gelar dan kelak mendapatkan kedudukan, ia sudah terlatih bahwa apa yang ia dapatkan bukan untuk sekedar plakat tetapi benar-benar harus dipertanggungjawabkan.

Berbeda ketika frame anak dibentuk dengan prinsip belajar untuk hidup, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang egois. Tipe orang seperti ini akan selalu membanggakan gelarnya, jabatannya, padahal semua itu hanyalah sementara dan pasti ada akhirnya.

Mengilhami kecerdasan yang dianugerahkan Tuhan pada manusia, ada word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan logika atau matematis), self smart (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan interpersonal), music smart (kecerdasan musikal),  picture smart (kecerdasan spasial), body smart (kecerdasan kinetik),  dan nature smart (kecerdasan naturalis), tentu tugas para pendidik termasuk orang tua adalah mencari kecenderungan. Pastinya semua terlahir dengan lebih dan kurang di sinilah peran orang tua untuk lebih memahami, mendampingi dan terus memberikan support sekalipun di tengah pandemi. Dukungan, kepercayaan, dan keyakinan yang selalu ditumbuhkan pada jiwa setiap anak akan menjadikan mereka pribadi yang bertanggung jawab, memahami akan tugasnya sebagai anak, siswa, dan bagian dari masyarakat.

undefined

SP