Mulai 1 Januari 2021, Pertamina Hapus BBM Premium, Pertamax Turun Harga?

Halo Berita 25 Nov 2020, By Rahmat DS
Mulai 1 Januari 2021, Pertamina Hapus BBM Premium, Pertamax Turun Harga? (halopacitan/istimewa)

Penghapusan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium atau bensin dengan nilai oktan (research octane number/RON) 88, rencananya akan dimulai 1 Januari 2021. Hal tersebut untuk pertama kalinya akan diterapkan di wilayah Pulau Jawa, Madura, dan Bali.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, MR. Karliansyah dalam sebuah diskusi di akun YouTube YLKI ID beberapa waktu lalu.

Rencana tersebut dianggap sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2017 mengenai batasan Research Octane Number (RON).

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi pun menyetujui rencana penghapusan peredaran BBM premium. Menurutnya, premium termasuk jenis BBM beroktan rendah, yang menghasilkan gas buang dari knalpot kendaraan bermotor dengan emisi tinggi.

“Jenis BBM dengan emisi tinggi termasuk tidak ramah lingkungan hingga membahayakan bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya seperti dilansir dari TrenAsia.com, Selasa 24 November 2020.

Selain beremisi tinggi, sambung Fahmy, pengadaan impor BBM premium juga berpotensi memicu moral hazard, yang menjadi sasaran empuk bagi mafia migas berburu rente. Pasalnya, sejak beberapa tahun lalu, BBM jenis ini sudah tidak dijual lagi di pasar internasional, sehingga tidak ada harga patokan.

“Pengadaan impor BBM premium dilakukan dengan blending di kilang minyak Singapura dan Malaysia, yang harganya bisa lebih mahal,” imbuhnya.

Mantan anggota Tim Anti Mafia Migas ini menilai, tidak adanya harga patokan bagi BBM premium juga memicu praktik mark-up harga. Ia bilang, hal ini juga yang menjadi pertimbangan penghapusan BBM premium sejak 5 tahun lalu.

Syarat Premium Dihapus

Ia mengamini bahwa penghapusan BBM premium pada masa pandemi akan semakin memperberat beban masyarakat karena konsumen harus migrasi ke pemakaian BBM yang harganya lebih mahal.

Untuk itu, Fahmy menilai bahwa penghapusan BBM di bawah RON-91 harus disertai dengan penurunan harga Pertamax RON-92. Hal ini untuk meringankan beban masyarakat sekaligus mendorong masyarakat menggunakan BBM jenis lain.

 “Apalagi, masyarakat pengguna BBM premium merupakan konsumen terbesar kedua setelah pertalite,” katanya.

Fahmy menganggap masih ada ruang bagi PT Pertamina (Persero) untuk menurunkan harga BBM pertamax. Sebab, tren harga harga minyak dunia masih cenderung rendah dengan rata-rata di bawah US$40 per barrel dan ICP (Indonesia crude price) ditetapkan sebesar dengan harga yang sama.

“Saatnya bagi pemerintah untuk menghapus BBM premium dan menurunkan harga BBM pertamax dalam waktu dekat ini,” pungkasnya.

undefined

SP