Pernah Gagal, Sujiarti Geluti Jamur Tiram, Omset Jutaan

Halo Warga 19 Jul 2020, By Peri
Pernah Gagal, Sujiarti Geluti Jamur Tiram, Omset Jutaan (halopacitan/peri)

Pandemi COVID-19 bukan saja memukul sendi kesehatan namun telah merambah hampir pada semua sendi kehidupan. Kreativitas manusia diuji bagaimana untuk bertahan dalam kondisi yang tidak menentu ini. Sujiarti, warga Pacitan terus berinovasi dan ketemulah jalan itu, jamur tiram menjadi jawaban.

Memulai sebuah usaha memang kadang tidak mudah, berbagai hal pun dicoba agar bisa mengetahui minat konsumen.  Seperti halnya warga Pacitan, Sujiarti warga Desa Purworejo yang terus trial and error, dan akhirnya jamur tiram menjadi jawaban.

 “Awalnya melalui kelompok, dicoba dengan pengolahan pembuatan ektrak jahe, tetapi tidak berjalan akhirnya berhenti”, kata Sujiarti saat dihubungi halopacitan Jum’at (17/07/2020)

Sujiarti menjelaskan, berbagai pertimbangan  seperti pemasarannya sulit dan kurang diminati masyarakat, akhirnya mencoba budidaya jamur tiram yang pada saat itu belum ramai di masyarakat. Ia mengaku usaha yang digeluti  tersebut dimulai sejak tahun 2007, dan saat ini omzetnya mencapai 2,5 juta per bulan.

“Alhamdulillah, kalau jamur peminatnya banyak, sehingga hasil panennya per hari sampai 10-20 kg dan perbulan pendapatannya mencapai 2,5 juta”, imbuhnya

Sujiarti sendiri awalnya petani dan ibu rumah tangga, tetapi berkat kerja kerasnya ia mampu mengembangkan usaha tersebut. Sujiarti didukung penuh oleh suaminya, Hendrat, yang berada di bawah naungan Kantor Ketahanan Pangan. Ia juga aktif mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan, untuk menambah wawasan dan inovasi usahanya.

Saat produksinya mencapai 200 baglog dan setiap hari panen terus secara bergantian, untuk satu baglog bisa bertahan  sampai tiga bulan masa produksi.

‘Untuk jenisnya jamur tiram, karena selain mudah perawatanya tetapi minat masyarakat jenis tersebut sangat diminati oleh masyarakat,” tambahnya

Kendala saat ini selain adanya pandemi tetapi sulitnya mencari serbuk gergaji yang cocok, maka akan berpengaruh terhadap produksinya sehingga berkurang dari biasanya.

“Sulitnya mencari serbuk gergaji (unthuk gergaji) yang bagus dan pandemi ini, produksinya menjadi berkurang walaupun tidak banyak ”, pungkasnya.

undefined

SP