Petani Muda ini Tekuni Budidaya Empon- Empon

SP -07 April 2020 23:45 WIB,
Rudi, GTT yang Tekuni Empon-empon (sumber: halopacitan/Yusuf Evendi)

Menjadi seorang petani atau pekebun di usia yang masih relatif muda menjadi pilihan hidup Muhamad Atik Rudianto. Pria berusia 25 tahun ini menentukan pilihan pada sektor pertanian sebagai bisnisnya, satu diantaranya dengan budidaya empon-empon.

Rudi membudidayakan berbagai rempah dapur atau empon-empon seperti lengkuas, temulawak dan kunyit. Laki-laki asal desa Karang Gede, Kecamatan Arjosari, Pacitan ini membaca peluang bisnis empon-empon masih cukup prospektif. Awal mulai usahanya ini ketika Rudi dan bapaknya pada suatu waktu mengunjungi lahan pertanian  miliknya yang lumayan luas sekitar 0.5 Ha dan banyak yang masih menganggur.

Dia lantas berpikir, ini bisa menjadi kesempatan yang bagus bagi anak muda sepertinya. Sebab, saat ini tidak banyak anak muda yang melirik sektor pertanian sebagai lahan bisnis. Pria yang sering disapa Rudi ini  memulai usaha ini sejak tahun 2018. Dia dan bapaknya memulai bisnis ini dengan penuh semangat. Setiap panen Rudi mampu menghasilkan empon-empon sekitar 5 – 9 kwintal. Omzet kotor hingga Rp 2 - 2,5 juta. Rudi mengatakan, bahwa budidaya empon-empon ini terbilang mudah karena perawatannya tidak sulit dan kecil kemungkinan gagal panen.

“Budidaya empon-empon itu tidak sulit mas, perawatannya mudah dan pasti panen lah”, kata Rudi pada halopacitan, Selasa (07/04/2020)

Rudi yang juga merupakan GTT (Guru Tidak Tetap) salah satu SD (Sekolah Dasar) di desanya ini juga sempat bercerita saat dia memulai membudidayakan empon-empon. Menanam lengkuas menjadi pilihannya karena tidak memerlukan modal telalu besar ketimbang jenis empon-empon lainnya. Setelah lengkuas Ia lantas menanam kunyit dan temulawak. Usahanya ini masih terus berkembang, saat ini juga mulai menanam jahe di sebagian lahan miliknya.  Namun diakui Rudi, ia masih mengeluhkan pemasarannya yang tiap kali panen harganya selalu anjlok, sebut saja lengkuas setiap kali panen dia hanya mampu menjual dengan harga  1 ribu rupiah per kilogram, tak jauh berbeda temulawak harganya juga cuma 2 ribu rupiah per kilogram. Sedangkan kunyit sekitar 2 ribu sampai 3 ribu rupiah per kilogramnya.

“Pertanian empon-empon saya ini masih terus berlanjut dan berkembang malah saat ini saya mulai menanam jahe, namun harus diakui untuk pemasaran saya masih sangat kesulitan karena tiap kali panen harganya selalu anjlok”, keluhnya

Pada era seperti ini memang tidak banyak pemuda yang mau menekuni bisnis pertanian maka dari itu Rudi pantas bersyukur. Di usianya yang relatif masih muda, ia mampu membaca peluang untuk meningkatkan perekonomian keluarganya.

Bagikan:

RELATED NEWS