Saat Didin Bisa, Devi Tersenyum Gembira

AZ - Senin, 21 Januari 2019 17:46 WIB
Devi (baju biru) sedang memberi arahan kepada siswa-siswanya undefined

Halopacitan, Pacitan—Didin Nur Wahyono, misalnya, siswa asal Lorok Ngadirojo ini beberapa kali melihat hasil jahitan yang di buat. Terlihat ketidakpuasan di wajahnya dengan hasil karyanya sehingga ia memilih melepaskan benang dan menjahitnya kembali.

Sementara Eky Devi Jayanti, guru yang mengajari para siswa menjahit itu tampak sibuk memberi penjelasan. Satu persatu siswanya diberi arahan. Sekilas biasa, tetapi Devi harus bersabar dan berpikir keras agar siswanya paham yang dia maksud.

Tak cukup menjelaskan dengan bicara, bahkan bicara kerap tidak ada gunanya. Isyarat tangan lebih mudah dipahami. Jika itupun belum juga dimengerti, Devi kemudian menulis apa yang dia instruksikan. Terlihat senyum gembira dengan tulus muncul di bibirnya ketika siswanya mengerti apa yang dia maksud.

"Ini anak tuna wicara semua, kalau mereka belum paham saya tulis, kan dia bisa baca. Ya ada satu dua anak yang memang belum bisa menjahit dan memotong kain juga masih kesulitan," ujarnya di sela-sela mengajar praktik menjahit kepada siswa kelas X dan XII di SLB YKK Pacitan, Senin (21/01/2019).

Devi memang butuh ekstra sabar dan berpikir keras untuk menularkan kemampuan menjahit kepada siswa-siswanya tersebut. Mengajar anak berkebutuhan khusus (ABK) jelas berbeda dengan mengajar anak biasa.

Lelah? Jelas, tetapi ada kepuasan tersendiri. Terlebih ketika anak didiknya mampu meraih prestasi. Dia menyebut nama Didin Nur Wahyono, salah satu siswanya yang pernah juara III cabang menjahit pada lomba ketrampilan siswa nasional pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus (PK-PLK) tingkat Provinsi Jawa Timur di Malang 2018 lalu.

"Ada juga yang sudah lulus Nisa namanya, saat ini membantu menjahit di konveksi kalau tidak salah di Pucangsewu, tapi memang anaknya itu pintar. Jadi kalau anaknya pintar diajari itu mudah nangkapnya," kata Devi.

Devi mengaku awalnya berat menjalankan tugas ini, tetapi setelah dijalani di dalam hatinya akhirnya tumbuh tekad untuk membuat anak didiknya bisa mandiri dan bisa bersaing.

"Intinya bagaimana mereka itu bisa mandiri ke depannya, tidak menjadi beban keluarga dan batin ini puas ketika melihat mereka itu bisa," imbuhnya.

Bagikan

RELATED NEWS