IMG-LOGO
Home Halo Pendidikan Selamatkan Anak-Anak...

Selamatkan Anak-Anak dengan Kurikulum Allah

Dr. Sri Pamungkas, S.S., M.Hum. - Senin, 3 Juni 2019 pukul 08.00
ilustrasi ilustrasi (sumber: Istimewa)

Coba bayangkan, mereka pukul 07.00 dan pulang pukul 16.00, seperti layaknya orang dewasa bekerja. Nyaris tak ada kesempatan bermain dengan teman sebayanya di rumah.  Padahal mereka sedang dalam massa tumbuh kembang yang memerlukan fase bermain untuk belajar memahami lingkungan dan membangun kepekaan sosial terhadap orang-orang di sekitarnya.

Apakah berarti tulisan tidak setuju dengan pola full day school? Sebenarnya bukan itu masalahnya, tetapi lebih bagaimana orang tua bijak menyikapi serta menyadari bahwa ada kecerdasan pada diri anak yang sangat perlu dikembangkan dan hal itu bukan dengan menghafal deretan angka, menghapal rumus, menghapal arti kata atau pernik-pernik yang membuat anak-anak ‘stress.’

Tak bisa dibantah lagi, setiap anak dilahirkan dengan membawa keistimewaan masing-masing. Mereka dianugrahi Tuhan dengan kecerdasan, salah satunya adalah kecerdasan interpersonal. Sudahkah kita sebagai orang tua melakukannya dan mendampingi putra putri kita dengan optimal untuk mengasah kecerdasan itu?

Kemampuan untuk   mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain adalah bagian dari keceradasan interpersonal. Manusia dengan kecerdasan ini akan peka terhadap ekspresi wajah, suara dan gerakan tubuh orang lain dan ia mampu memberikan respons secara efektif dalam berkomunikasi.

Yang penting lagi, kecerdasan ini juga berkaitan dengan kepekaan sosial, artinya anak diajarkan untuk mampu masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan umumnya dapat memimpin kelompok.  Seseorang mempunyai kecerdasan interpersonal rendah biasanya dapat mengakibatkan konflik interpersonal dan akhirnya memunculkan penyakit mental yang berpengaruh pada perkembangan kepribadian. Intinya, kecerdasan interpersonal adalah kemampuan anak membangun hubungan dengan harmonis, saling menghargai dan mengedepankan tolerasi berdasarkan budaya yang berkembang di masyarakat.

Ramadhan dan Idul Fitri jika dikaji lebih mendalam juga merupakan tahapan dalam membangun kecerdasan interpersonal. Bagi umat Islam Ramadhan adalah bulan penuh anugerah dengan segala hal yang melekat di dalamnya, mulai kualitas ibadah, shalat berjamaah, berbuka bersama, banyak bersedekah.

Sementara Hari Raya Idul Fitri syarat dengan silaturahmi, saling memaafkan, dan berkumpul bersama keluarga besar. Semua ini merupakan cara Tuhan menuntun kita mengoptimalkan kecerdasan interpersonal manusia.

Tuhan sebenarnya telah merancang kurikulum luar biasa untuk optimalkan kecerdasan anak-anak yang berpijak pada Joy Full Learning atau  belajar yang menyenangkan. Rancangan kurikulum yang bernama Ramadhan telah lengkap dengan hasilnya bisa terukur.

Terdapat rasa yang berbeda ketika kurikulum Ramadhan rancangan Tuhan ini diterapkan, karena anak-anak dalam satu bulan akan mengikuti ‘pembelajaran’ dengan sangat menyenangkan. Momen sahur dan berbuka mejadi hal yang sangat spesial karena ada nilai kebersamaan ditanamkan.

Shalat berjamaah di masjid  mau tidak mau mengharuskan anak berinteraksi dengan banyak orang, menghormati sesama jamaah, tadarus  Al Quran, hingga datang waktu sahur dan kembali momen kebersamaan degan seluruh anggota keluarga akan menjadi media bagaimana anak diajarkan peduli dan berempati terhadap orang-orang di sekitarnya. Semuanya akan membawa kesegaran dalam neuron di otak anak-anak kita.

‘Kurikulum Ramadhan’ yang Allah sempurnakan dengan puncak ibadah yaitu kurikulum Idul Fitri, yang syarat dengan silaturahmi. Mudik menjadi budaya masyarakat Indonesia pada momen lebaran sebenarnya adalah untuk menjalin silaturahmi.

Oleh karenanya momen ‘mahal’ ini jangan sampai dilewatkan terutama untuk anak-anak kita. Gilasan  teknologi yang kian deras jangan sampai membatasi ruang-ruang penting mereka untuk melejitkan kecerdasan iterpersonalnya.

Plakat Indonesia sebagai negara dengan ‘kecanduan’ internet lima besar dunia jangan sampai terus melejit. Hal ini akan berbahaya, karena semakin kepekaan sosial turun salah satunya dengan tidak peduli akan silaturahmi maka akan berakibat fatal bagi generasi Indonesia. Pembiaran terhadap anak-anak yang sudah difasilitasi handphone sejak usia dini dan bahkan tanpa pendampingan dan peraturan yang jelas terutama dalam keluarga, sebenarnya hal ini adalah ‘upaya’ penjajahan generasi Indonesia. Teknologi menjauhkan anak dari budaya silaturahmi dan berujung rendahnya kecerdasan interpersonal.

Padahal kecerdasan interpersonal menjadi salah satu penentu kecerdasan emosi yang berkontribusi lebih dominan daripada  kecerdasan intelektual. Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang sibuk dengan dirinya sendiri dan tak peduli dengan orang lain, bahkan terhadap saudara dan keluarga. Generasi Indonesia harus diselamatkan salah satunya dengan mensupport kecerdasan interpersonal sehingga kelak mereka akan memimpin Indonesia dengan hati.

Dr. Sri Pamungkas, S.S., M.Hum adalah  pakar pendidikan dan tinggal di Pacitan