Senam Organ Bicara, Cara Penting Kenalkan Kata Pada Anak Tuna Rungu

AZ - Jumat, 18 Januari 2019 12:59 WIB
Hersen Nehrulita (berdiri) sedang mengajar pengenalan kata pada anak-anak tuna rungu undefined

Halopacitan, Pacitan—Menurut Hersen Nehrulita, S.Pd.Gr. salah satu guru di SLB YKK Pacitan, tuna rungu secara otomatis identik dipersamakan dengan tuna wicara. Karena, asupan pendengaran kosakata yang terbatas, sehingga dalam mengeluarkan ucapan juga terbatas.

"Jadi yang kami ajarkan bagi yang awam atau pertama kali yakni senam organ wicara, dengan catatan organ wicara harus normal dulu, kalau sudah normal kita ajarkan seperti senam lidah, juga mulut dan pernafasan. Tapi kalau ABK [anak berkebutuhan khusus] tersebut kekurangan di organ wicara misal langit-langit atas tidak ada, sumbing, itu agak sulit," ungkapnya, Jumat (18/01/2019).

Kalau di sekolah, lanjut Hersen, pengantar pendidikannya selain memberikan terapi bina bicara dan pengenalan persepsi bunyi atau suara, juga menggunakan isyarat, untuk mempermudah ABK dalam menerima apa yang disampaikan.

"Kalau anak tuna rungu itu kan manusia pemata, dia visual, jadi dia harus banyak stumulusnya dari visual. Jadi, kita harus pakai isyarat," katanya.

Saat Hersen masuk di salah satu kelas SMPLB, beberapa anak tuna rungu yang diajarnya terlihat sangat fokus dan memperhatikan apa yang disampaikannya, baik melalui gerak gerik isyarat tangan maupun mulut. Terlihat juga, Laila Puspitasari salah satu siswi di kelas tersebut, meski duduk di belakang ia cukup aktif menirukan apa yang disampaikan Hersen.

Meskipun, suara Laila saat menirukan tidak begitu jelas, tetapi ia cukup mengerti dengan apa yang disampaikan Hersen, bahkan terlihat beberapa kali ia juga mengangguk-anggukkan kepala atau sebagai tanda bahwa sudah paham maksudnya.

"Cuma, kesulitannya itu kalau anak masuk sekolahnya terlambat, misalnya seharusnya SMP kelas VII tetapi baru dimasukkan sekolah. Jadi kita itu mau memberikan pengajaran yang setara usia anak SMP itu, dia tidak sampai karena masih nol, tetapi kalau dikasih pembelajaran tingkat SD dia terlalu besar," terangnya.

Hersen menjelaskan, penataan bangku kelas seperti anak reguler itu tidak efektif jika diterapkan kepada anak tuna rungu, hal ini karena, anak tidak akan fokus atau tidak terpusat dengan apa yang disampaikan oleh pengajar. "Meski tidak harus, tetapi lebih efektif jika penataan bangku itu berbentuk setengah lingkaran," jelasnya.

Ia menambahkan, ketika mengajar untuk tidak membelakangi siswa, dalam arti saat menulis sambil bicara dan sebagainya, karena hal itu tidak akan efektif. Sehingga, saat mengajar harus fokus pada satu-satu materi yang ingin disampaikan. Ketika nulis tentu harus fokus nulis, kemudian saat bicara juga harus fokus bicara, dan sebagainya.

"Dulu ada yang bilang, kalau mengajar jangan memakai kumis tebal, atau atribut yang menarik perhatian seperti bros atau apapun, karena mereka nanti fokusnya pecah, karena utamanya untuk tuna rungu itu visual. Maka, sejak kecil memang harus dikenalkan kata, misal anak menunjuk bola, ya kita harus ngomong bola dan sebagainya, supaya terbiasa dan ketika masuk ke sekolah itu setidaknya sudah lumayan," imbuhnya.

Bagikan

RELATED NEWS