Suwarni, Saksi Hidup Perjuangan Jenderal Sudirman di Tokawi

AZ - Kamis, 28 Maret 2019 08:30 WIB
Suwarni undefined

Halopacitan, Nawangan Rumah model joglo tua terlihat masih kokoh berdiri, terletak di tepi Jalan Raya Arjosari-Purwantoro tepatnya di kilometer 34, lebih tepatnya di depan balai Desa Tokawi. Di sinilah dulunya Jenderal Sudirman tinggal selama sembilan hari. Sebuah rumah milik Pawirorejo yang pada saat itu adalah mantan Kepala Desa Tokawi. Kini rumah itu ditinggali oleh Suwarni yang merupakan salah satu putra dari Pawirorejo.

Suwarni sendiri adalah saksi hidup kehadiran Panglima Besar Jenderal Sudirman dalam rangka memimpin gerilya saat agresi militer Belanda ke II. Pada saat Pak Dirman singgah di rumah orang tuanya Suwarni berusia sekitar 13 tahun, sementara orangtuanya baru saja berhenti dari Kepala Desa dan digantikan kakak sulungnya.

"Saya waktu itu sudah lulus sekolah angka loro dan melanjutkan sekolah di Nawangan. Kira-kira saat ini kelas 6 SD," kata wanita berusia 83 tahun itu kepada Halopacitan, Rabu (27/03/2019)

Masih tergambar jelas kenangan tentang Jenderal Sudirman beserta pasukannya. "Saat itu yang tinggal di rumah ini hanya Pak Dirman, Pak Pranolo ( Cokro Pranolo) dan Pak Parjo (Supardjo Roestam). Sementara pasukannya tinggal di kediaman penduduk yang lain," kata perempuan yang dari kecil dijuluki Ebroh itu.

Rumah tempat Jenderal Sudirman tinggal di Tokawi (Halopacitan/Tomi Herlambang)

Suwarni mengaku saat itu kurang paham siapa sang tamu. Yang ia tahu tiba-tiba desanya kedatangan banyak tentara. "Pak Dirman itu perawakannya tinggi kurus, orangnya pendiam. Pak Pranolo dan Pak Parjo kalau bicara kepada beliau cuma bilang njih pak...njih pak, gitu!", jelas Suwarni.

Menurut Suwarni, ia sering membantu ibunya memasak untuk Pak Dirman dan tak jarang memberi tahu para pengawal saat makanan sudah siap. Ia masih ingat betul menu yang sering dimasak oleh ibunya pada saat itu. Yaitu nasi, sayur bening, atau sayur daun singkong. Lauknya tempe, kadang-kadang menggoreng ayam. Sementara buahnya hanya pisang, pepaya dan jeruk bali.

Menurut catatan, Panglima Sudirman singgah di Tokawi selama sembilan hari antara 22 Maret sampai 30 Maret 1949. Hal itu juga dibenarkan oleh Suwarni, menurutnya Pak Dirman tinggal di Tokawi kurang dari sepuluh hari. Setelah itu ia dijemput oleh Kepala Desa Pakis yang bernama Jaswadi untuk tinggal di Dusun Sobo Desa Pakis, yang saat ini dibangun monumen Jenderal Sudirman.

Saat akan berangkat menuju Jenderal Sudirman menyempatkan berpamitan kepada orang tua Suwarni, dan juga meninggalkan pesan. "Beliau berterima kasih, lalu pesan kepada bapak untuk membimbing kakak saya yang baru saja jadi kepala desa karena kakak saya masih muda", ucapnya.

Mbah Ebroh mengaku pada saat berangkat menuju Pakis Pak Dirman tidak meninggalkan apa-apa, malah ia menuturkan selang beberapa saat setelah rombongan berangkat, ada beberapa tentara yang kembali untuk meminjam kursi dan piring kepada bapaknya sambil menceritakan bahwa Pak Dirman jatuh dan kursi yang dijadikan tandu rusak serta beberapa piring yang dibawa Panglima Sudirman ikut pecah.

"Dulu jalan ke Pakis bukan yang didepan rumah itu, tapi masih jalan rintisan yang sempit dan masih berupa tanah. Kalau hujan licin sekali," kata Suwarni.

Bagikan

RELATED NEWS