Tak Bisa Baca Alquran, Jangan Harap Bisa Lulus dari Sini

AZ - Jumat, 12 Januari 2018 07:36 WIB
Taman Pendidikan Alquran (TPQ) Al-Tarmasi Desa Tremas undefined

Halopacitan,Arjosari-- Lembaga pendidikan yang berada di Dusun Krajan, Desa Tremas, Kecamatan Arjosari tersebut setiap tahun menerima ratusan santri yang tidak saja datang dari Tremas, tetapi dari luar wilayah tersebut.

“Jumlah santri dari tahun ke tahun stabil di atas 200santri. Untuk tahun ini jumlah keseluruhan 233 santri. Mayoritas dari Desa Tremas, tetapi peminat dari luar Desa Tremas juga banyak,” kata Jabir,S.Pd.i, ketua di TPQ AL-Tarmasi saat ditemui Halopacitan, Kamis (11/01/2018)

TPQ AL-Tarmasi dibentuk pada tahun 1992 yang diprakarsai Kyai Habib Dim Yati dengan menggunakan Gedung SD Tremas. Pengajarnya memberdayakan alumni pondok pesantren Tremas.

Proses belajar mengajar di TPQ AL-Tarmasi tidak menggunakan kurikulum umum yang digunakan di sekolah dasar, tetapi mengacu pada Garis Besar Pokok Pembelajaran (GBPP) atau kurikulum yang dibuat oleh TPQ AL-Tarmasi sendiri.

“Lembaga ini menggunakan sistem Salafi, untuk materi pembelajaran kami punya target setelah lulus bisa baca tulis Alquran,tata cara wudhu, sholat dengan baik dan benar. Kalau itu belum terpenuhi ya tidak lulus bahkan harus mengulang di tahun berikutnya,” tambah Alfan Ansori,S.Pd.I, salah satu pengurus TPQ AL-Tarmasi.

Hal lain yang membuat TPQ ini menjadi pilihan adalah biaya pendidikan yang murah yakni hanya Rp15.000 per bulannya. “Itu sudah termasuk biaya untuk kegiatan keagamaan dan wisuda santri,” kata kata Imam Safi'i,S.Pd, bendahara di TPQ AL-Tarmasi.

Untuk mendapatkan pendidikan agama yang baik menjadi alasan mayoritas orangtua memasukkan anaknya ke tempat pendidikan ini. Terlebih Tremas juga dikenal sebagai salah satu pusat agama yang tidak saja disegani di Pacitan, tetapi juga di Jawa Timur bahkan Indonesia.

“Karana saya juga mantan santri di sini jadi saya tahu betul pembelajaran agama di sini. Di Tremas banyak Kyai dan merupakan pondok pesantren tertua di Pacitan,semoga dapat karomah dari para Kyai,” kata Misni (56) warga Desa Borang,salah satu wali santri (Sigit Dedy Wijaya)

Bagikan

RELATED NEWS