Tetap Semangat, Jangan Takut Hadapi Resesi, Ini Strateginya
Indonesia makin waswas, akan terjadi atau tidak, karena kurang dari sebulan penghabisan kuartal III-2020. Meskipun sinyal pemulihan mulai terlihat, tapi Indonesia kadung kontraksi 5,32% pada kuartal sebelumnya, inilah yang memunculkan pertanyaan besar.
Prediksi para ekonom, situasi ini agak sulit bagi Indonesia untuk loncat ke level positif. Sinyal pemulihan tidak sedrastis dengan penurunan, sehingga, yang bisa dilakukan saat ini adalah meredam anjloknya resesi ke level yang lebih dalam.
“Kondisi ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, tapi negara lain juga mengalami ekonomi negatif. Sehingga resesi tidak bisa terhindarkan, masyarakat harus siap-siap,” kata Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti pada TrenAsia.com, Rabu, 2 September 2020, dilansir dari trenasia.com.
Efek luar biasa akan dirasakan masyarakat secara luas, jika resesi menjadi kenyataan. Dampak langsung yang akan dialami masyarakat antara lain melambungnya harga komoditas, tingginya angka pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK), banyaknya angka gagal bayar kredit, dan membengkaknya angka kemiskinan.
Deflasi tidak akan bisa terhindarkan bila kondisi di atas terjadi. Seperti yang sudah terjadi dua kali tahun ini yaitu pada Juli dan Agustus. Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,05%, lebih rendah ketimbang Juli di level 0,10%, deflasi tersebut disebabkan oleh turunnya permintaan dan penawaran sekaligus.
Menurut Esther, lemahnya konsumsi masyarakat menjadi faktor utama kontraksi ekonomi di Indonesia. Sebab, menurut BPS, konsumsi rumah tangga berkontribusi terhadap 56% dari total PDB.
Esther menjelaskan masyarakat berpenghasilan rendah saat ini tidak punya pilihan untuk membelanjakan uangnya. Sementara masyarakat berpenghasilan menengah dan tinggi cenderung wait and see alias ngirit karena ketidakpastian kapan berakhirnya krisis.
“Oleh karena itu, cara mengatasinya bantu dari sisi permintaan dulu, lalu beri kebijakan untuk support di sisi supply.”
Lebih lanjut Piter menegaskan, bahwa resesi bukan suatu kondisi yang harus ditakuti. Menurutnya, yang terpenting adalah masyarakat mampu memanajemen keuangan domestik agar dapat bertahan selama krisis berlangsung.
“Selama masih ada wabah, seluruh kebijakan tidak akan efektif untuk mendongkrak ekonomi. Ini terjadi tidak hanya di Indonesia, akan tetapi semua negara pun merasakan yang sama. Jadi, resesi tidak bisa dihindari,” kata Piter dilansir dari TrenAsia.com.
Cara Survive
Tidak hanya mengandalkan bantuan pemerintah, masyarakat juga perlu bersiap menghadapi resesi. Langkah paling bijak melewati krisis ekonomi saat ini adalah dengan mengatur keuangan pribadi atau rumah tangga secara cermat.
Caranya, masyarakat bisa mengatur ulang porsi belanja menjadi lebih selektif. Misalnya, mengutamakan belanja kebutuhan pokok, kesehatan, operasional, dan dana darurat.
Pos dana darurat juga dapat diperbesar anggarannya, dari alokasi ideal sekitar 5%-10% menjadi 40% dari total pemasukan. Skema realokasi juga menjadi salah satu instrumen yang dapat diterapkan.
Jangan salah, situasi seperti ini justru merupakan momentum tepat berinvestasi. Salah satu sektor yang masih cukup menjanjikan untuk dijadikan investasi saat resesi menimpa adalah sektor konsumsi.
Saham-saham yang berasal dari perusahaan consumer goods yang tidak berorientasi pada ekspor cenderung lebih stabil meski di tengah resesi.
Selain itu, logam mulia seperti emas juga tidak kalah berkilau. Buktinya, tren harga emas global terus memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan investor yang berhasil untung di tengah krisis ekonomi 1998 silam.
