Tugas Berlebihan, Siswa dan Mahasiswa Bisa Stres dan Mengancam Sistem Imun

Halo Berita 25 Mar 2020, By Rahmat DS
Tugas Berlebihan, Siswa dan Mahasiswa Bisa Stres dan Mengancam Sistem Imun (halopacitan/istimewa)

Masa belajar di rumah diperpanjang. Ujian Nasional (UN) pun dihapus, semua demi menyelamatkan banyak orang. Konsekuesinya guru memberikan materi pada siswa dengan sisitem daring (dalam jaringan), bisa dalam bentuk penugasan, pengiriman video pembelajaran, kuis digital dan lain-lain.

 

Menanggapi pesan Mendikbud yang kemudian diterjemahkan oleh Kepala Daerah, Kepala Dinas, hingga para guru dan dosen rupanya masih ada beberapa yang overload (berlebihan). Beberapa siswa di Pacitan juga mengeluhkan tugas yang sangat banyak.

 

Okta, salah satu siswa SMP Negeri di Pacitan pernah mengeluhkan “Mending saya masuk sekolah daripada libur dengan tugas yang membuat stres” ungkapnya saat dikonfirmasi halopacitan. Hal serupa tidak hanya dikeluhkan oleh siswa di Pacitan tetapi juga siswa di kota lain.

 

Dilansir dari tirto.id, keluhan tentang tugas berlebihan kepada siswa mengemuka setelah Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan, pihaknya sudah menerima 51 pengaduan sejumlah siswa dari berbagai daerah yang mengeluhkan beratnya penugasan dari para guru yang harus dikerjakan dengan deadline yang sempit, padahal banyak tugas yang harus dikerjakan segera juga dari guru mata pelajaran yang lain. Pengaduan berasal dari berbagai daerah dan jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA/SMK.

 

Oleh karena itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem meminta para guru untuk tidak memberikan tugas berlebihan kepada siswa maupun mahasiswa selama masa belajar di rumah dalam menghadapi COVID-19.

 

"Kami juga ingin menekankan bahwa walaupun banyak sekolah sekarang melakukan belajar dari rumah, bukan berarti gurunya hanya berikan pekerjaan saja kepada murid, tapi juga ikut berinteraksi dan berkomunikasi membantu muridnya dalam mengerjakan tugas".

 

Tugas yang berlebihan, sampai membuat anak stress tentu akan berakibat fatal. Dilansir dari media ayobandung.com, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor, Profesor Ali Khomsan, menjelaskan bahwa zat gizi, terutama vitamin C, akan berkurang jika seseorang stres. "Saat stres, beberapa zat gizi seolah diboroskan tubuh. Zat gizi tersebut diperlukan untuk imunitas sehingga akhirnya imunitas turun. Vitamin C adalah contoh yang terboroskan saat stres," kata Prof Ali. Vitamin C sendiri selama ini diketahui sebagai salah satu immune booster atau peningkat daya tahan tubuh. Meski, menurut Prof Ali, belum bisa dipastikan berapa banyak kadar vitamin C yang akan terkuras saat seseorang dilanda stres. "Belum diketahui, namun vitamin C dan vitamin B adalah yang paling mudah hilang," ucapnya. Selain menjaga pikiran agar tetap tenang dan terhindar dari stres, Prof Ali menyarankan agar mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin, mineral, dan serat. Hal ini bertujuan agar kekebalan tubuh tetap terjaga.

Aisya Aulia Sudrajat, atau akrab dipanggil Echa menyampaikan, “Sudah seharusnya kita sebagai generasi muda benar-benar harus stay at home. Kita harus bantu pemerintah untuk ajak teman-teman kita bahkan masyarakat secara umum untuk stay at home agar kita bisa membantu memutus mata rantai corona.

Saat ditanya tentang keluhan para siswa, Ketua Forum Anak Kabupaten Pacitan ini menyampaikan “Sebenarnya belakangan ini banyak siswa yang mengeluh dengan banyaknya tugas. Menurut saya belajar tidak harus dengan mengerjakan tugas. Penjelasan lewat video, interaksi lewat chat WhatsApp dan lain sebagainya juga cara belajar. Disisi lain menurut saya, sebagai siswa memang sudah seharusnya ada kesadaran tersendiri terlebih memang konteksnya adalah belajar dirumah dan bukan libur. Kami juga memohon agar ada prinsip kewajaran. Jangan sampai keluhan teman-teman di kota lain seperti tugas membuat video hanya diberikan waktu singkat. Sekecil apa pun kami, kami juga punya tingkat stres. Jangan sampai stress yang melanda para pelajar dan mahasiwa menurunkan imunitas tubuh mereka”,tutup Echa.

undefined

SP