IMG-LOGO
Home Halo Berita Turun di Sembilan Ke...

Turun di Sembilan Kelas, Pembalap Ini Sembilan Kali Naik Podium

Tomi Herlambang - Selasa, 30 Juli 2019 pukul 19.04
Kiky Cahya Andika (belakang) saat beraksi di Kejurprov Seri 2 Trophy Adhyaksa GIS WGTS Seri 3 di sirkuit GIS Pacitan. Kiky Cahya Andika (belakang) saat beraksi di Kejurprov Seri 2 Trophy Adhyaksa GIS WGTS Seri 3 di sirkuit GIS Pacitan. (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan, Pacitan—Kiky Cahya Andika pemuda kelahiran Ngawi 20 tahun  lalu memberi warna tersendiri dalam gelaran Kejurprov Seri 2 Trophy Adhyaksa GIS WGTS Seri 3 di sirkuit GIS.

Bermain di sembilan kelas berbeda, Kiky berhasil membayar dengan podium semua. Ini bukan prestasi yang main-main karena ajang Kejurprov di Pacitan sendiri diikuti oleh pembalap-pembalap terbaik dari Jawa Timur dan provinsi-provinsi lain di sekitarnya.

Bertarung mulai dari hari Sabtu, Kiky yang mengaku datang berlatih di sirkuit Gelora Intan Samudera pada hari Jumat tersebut mengucap syukur yang tidak terkira atas capaian prestasinya kali ini. "Alhamdulillah, semua persiapan yang dilakukan tim tidak sia-sia," jawab pemuda yang belajar balap sejak usia 13 tahun tersebut. 

Dalam gelaran ini Kiky berhasil meraih podium dengan meraih Juara I di kelas bebek standart open, Juara I Kelas  bebek modif pemula, Juara I Kelas bebek standart khusus 2T open, Juara I FFA pemula open, Juara II kelas bebek modif open, Juara III FFA open, Juara I kelas bebek standart karesidenan Madiun, Juara I FFA karesidenan Madiun juara 1 dan Juara III MX2 Novice.

Kiky juga mengaku sangat nyaman bertarung di sirkuit GIS. Selain trek lebar sehingga pembalap bisa saling over taking, tantangannya juga lumayan. "Hanya dibeberapa bagian yang cukup berpasir sebaiknya panitia segera melakukan perbaikan setelah tiga atau empat race berlangsung," ucapnya, "Alur yang ditinggalkan ban menjadi sangat dalam," jelas pemilik nomor start 69 tersebut.

Kiky Cahya Andika 

Terkait gelaran yang berlangsung, Kiky yang rajin berlatih 2 kali dalam seminggu tersebut mengaku puas. Menurutnya, sirkuit Pacitan mempunyai keistimewaan tersendiri. Dari sirkuit yang sangat dekat dengan obyek wisata, hanya 3 kilometer dari pusat Kota, kesiapan panitia hingga penonton Pacitan yang tertib dan ramah. "Pokoknya Pacitan istimewa," ujarnya tersenyum.

Senada dengan Kiky, Bambang Ismarhadi manager sekaligus pemilik tim UD. Hasil Bumi AMRF tim balap dari Kota Ngawi dimana Kiky Cahya Andika bernaung juga merasa puas dengan gelaran kemarin. Dihubungi via telepon, Benk-benk demikian dia akrab di sapa mengaku senang bisa hadir dalam gelaran kali ini sekaligus bangga dengan capaian pembalapnya. "Hari baik, nasib baik dan capaian yang baik," ucap pria murah senyum itu Selasa  (30/07/2019). "Sekaligus bisa jalan-jalan ke Pacitan yang sedang trending di medsos karena wisatanya," ucapnya lagi.

Menurut Benk-benk, capaian Kiky saat ini adalah hasil kerja keras bersama dalam waktu yang tidak singkat. Pria yang mengaku menjadi manager Kiky sejak tahun 2016 lalu itu juga berharap Kiky terus berprestasi kedepannya. "Kita di tim ini adalah sebuah keluarga. Saling menjaga, saling mendukung," jelas pria 27 tahun itu.

Berbicara perlombaan, Benk-benk yang mengaku mengincar juara umum dari rangkaian seri WGTS tersebut mengakui berat dan ketatnya persaingan dalam pertarungan kemarin, terutama di grasstrack. Menurutnya untuk nomor-nomor grasstrack pembalap-pembalap Jawa Tengah adalah barometer para pembalap grasstrack Indonesia saat ini, dan gelaran kemarin banyak diserbu pembalap Jawa Tengah karena Pacitan sendiri adalah wilayah perbatasan.

"Berat, di Jawa Tengah sendiri hampir tiap minggu ada gelaran grasstrack berbeda dengan kita di Jawa Timur," jelas laki-laki yang sudah menyukai otomotif sejak kecil tersebut. "Dan alhamdulillah kita masih mampu unjuk gigi," lanjutnya.