mobil
Senin, 06 April 2026 12:36 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA - Pemanfaatan biodiesel berbahan dasar kelapa sawit di Indonesia terus didorong sebagai bagian dari upaya strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Seiring rencana transisi menuju campuran hingga level seperti B50, muncul kekhawatiran di masyarakat yaitu apakah penggunaan biodiesel aman untuk mesin kendaraan?
"Bagian kemandirian energi dan efisiensi, pemerintah menerapkan B50 per 1 Juli 2026, Pertamina siap blending dan mengurangi BBM fosil 4 juta kilo liter (kl) dalam satu tahun. Dalam 6 bulan dari fosil dan subsidi biodiesel nilainya (penghematan) Rp 48 triliun," jelas Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam keterangan pers, dikutip Kamis, 4 Februari 2026.
Berdasarkan berbagai hasil uji, riset, dan pernyataan resmi, biodiesel sawit tidak berbahaya selama digunakan pada mesin yang dalam kondisi baik dan memenuhi standar kualitas bahan bakar. Namun, pada kadar campuran tinggi, terdapat sejumlah risiko teknis yang perlu diantisipasi oleh pengguna maupun industri.
BACA JUGA: Rahasia Harga BBM Indonesia Tetap Stabil Saat Dunia Khawatir
Biodiesel yang digunakan di Indonesia berbasis FAME (Fatty Acid Methyl Ester), yang secara kimia memiliki karakteristik berbeda dari solar fosil. Salah satu sifat utamanya adalah mudah menyerap air, yang dapat memicu korosi pada komponen mesin seperti injektor dan pompa bahan bakar.
Selain itu, biodiesel juga lebih rentan terhadap oksidasi jika disimpan terlalu lama atau terpapar udara. Kondisi ini dapat menyebabkan terbentuknya endapan yang berpotensi menyumbat filter dan mengganggu kinerja mesin secara keseluruhan.
Dari sisi performa, biodiesel memiliki nilai energi yang lebih rendah dibandingkan solar konvensional. Hal ini dapat berdampak pada penurunan tenaga mesin, terutama pada campuran tinggi seperti B50 ke atas.
Selain itu, jika proses produksi biodiesel tidak sempurna, sisa senyawa seperti gliserin dapat tertinggal dan menyebabkan penyumbatan pada sistem injeksi. Karena itu, kualitas bahan bakar menjadi faktor krusial dalam menjaga performa kendaraan.
Pemerintah telah lebih dulu menerapkan B30 dan B35 secara nasional. Berdasarkan uji jalan resmi, kendaraan yang menggunakan campuran ini tetap beroperasi dengan baik bahkan setelah menempuh jarak hingga 50.000 kilometer.
Namun, pada tahap awal penggunaan, biodiesel memiliki efek “pembersih” yang dapat meluruhkan kerak di tangki bahan bakar. Akibatnya, filter bisa lebih cepat kotor dan perlu diganti lebih awal sebelum kembali ke siklus normal.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM terus melakukan pengujian bertahap sebelum implementasi penuh B50. Uji jalan dilakukan secara menyeluruh di berbagai sektor, mulai dari kendaraan pribadi hingga alat berat dan transportasi laut.
Parameter pengujian mencakup konsumsi bahan bakar, performa mesin, serta kualitas pelumas. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa peningkatan kadar biodiesel tidak menimbulkan risiko besar bagi pengguna.
Dalam praktiknya, penggunaan B50 sebenarnya sudah diuji dalam skala terbatas. Salah satu studi menunjukkan kendaraan berbahan bakar B50 mampu menempuh hingga 170.000 kilometer tanpa masalah signifikan.
Hasil ini menunjukkan bahwa dengan kualitas bahan bakar yang terjaga dan perawatan mesin yang baik, biodiesel dengan campuran tinggi tetap aman digunakan bahkan dalam jangka panjang.
Secara keseluruhan, biodiesel sawit bukanlah ancaman bagi mesin kendaraan. Risiko yang ada lebih bersifat teknis dan dapat diminimalkan dengan pengelolaan kualitas bahan bakar serta perawatan kendaraan yang baik.
Dengan uji jalan yang terus berjalan dan pengembangan teknologi, implementasi B50 berpotensi menjadi langkah besar menuju kemandirian energi nasional tanpa mengorbankan performa kendaraan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 03 Apr 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 06 Apr 2026
Bagikan