Di Tangan Perempuan Ini, Sampah Jadi Indah, Masalah Jadi Berkah

Minggu, 06 Januari 2019 10:43 WIB

Penulis:AZ

Suliyati menunjukkan tas laptop yang dibuat dari sampah
Suliyati menunjukkan tas laptop yang dibuat dari sampah undefined

Halopacitan, Pacitan—Sekilas, beberapa dompet dan tas yang diletakkan di atas meja itu terlihat mewah dan mahal. Siapa sangka, ketika dilihat lebih jeli, ternyata mereka dirangkai dan dibuat dari barang-barang sisa pakai atau sampah.

Bahan utama kreasi tersebut adalah plastik bekas. Yang menarik, justru tidak kelihatan  bahwa bahan utamanya adalah plastik.

"Awal saya membuat kreasi itu tahun 2011 lalu, saya bikin tas laptop belum ada puring di dalamnya, dan masih kelihatan plastiknya, kemudian bikin dompet dan sebagainya. Ya cukup rumit buatnya," kata Suliyati, sosok yang membuat berbagai barang tersebut.

Perempuan ini memang memberi perhatian khusus pada masalah sampah. Salah satunya, seperti yang sudah ditulis sebelumya, Suliyati juga mendirikan bank sampah di rumahnya untuk melayani warga sekitar.

Ternyata tidak berhenti di situ. Warga RT 04, RW 01, Dusun Pager, Desa Arjowinangun Kecamatan Pacitan ini juga berkreasi dengan sampah untuk membuat berbagai barang. Didukung dengan kemampuannya menjahit, terciptalah berbagai karya yang memiliki nilai jual tinggi.

Beberapa kreasi dari sampah buatan Suliyati (Halopacitan/Sigit Dedy Wijaya)

Suliyati mengatakan, sampah plastik yang sudah dipilihnya kemudian dipotong kecil-kecil memanjang dengan menggunakan gunting atau pisau. Setelah terkumpul banyak, kemudian ia mulai menjahit dan membentuknya, namun dalam pembentukannya dibalut dengan sebuah kain jenis organdi, ditambah resleting dan juga variasi lainnya, agar terlihat seperti barang pabrikan.

Harga yang ditawarkan juga bervareasi mulai Rp30.000-Rp60.000 lebih.  Cukup tinggi untuk sebuah barang yang dibuat dari bahan yang oleh sebagian masyarakat dianggap tidak ada nilainya, bahkan dianggap masalah.

Sebenarnya dia menawarkan kepada warga untuk menyediakan potongan-potongan plasti ini dan akan dibelinya dengan harga Rp15.000 per kilogramnya. Tetapi tidak ada yang mau.

"Satu kilogramnya memang banyak, cuma maksud saya ini kan barang yang tidak terpakai, sampah plastik juga tidak busuk kalau dibuang dan juga mengganggu lingkungan. Akhirnya saya kerjakan pelan-pelan sambil nonton tv malam hari untuk memotongi," katanya saat ditemui Halopacitan Sabtu (05/01/2019).

Perempuan 53 tahun tersebut juga telah mengikuti berbagai pameran yang digelar oleh Pemkab untuk menjual hasil karyanya tersebut. Meski laku saat pameran, namun hingga saat ini pihaknya mengakui terkendala pada pemasaran produknya tersebut.

"Kendala saya cuma di pemasarannya saja, agak sulit, kalau harga ya standart karena karya manual, bukan pabrikan. Rencananya ke depan mau saya pasarkan online nantinya," imbuhnya.

Apa yang dilakukan Suliyati adalah langkah kecil untuk mengatasi masalah sampah yang kian mencemaskan. Hanya saja, Suliyati tidak boleh dibiarkan sendiri. Harus ada dukungan dari semua pihak.