
Jangan Asal Tanya! Ini 5 Hal yang Tak Boleh Kamu Tanyakan ke ChatGPT
- Jangan disepelekan, hindari bertanya hal-hal ini lewat chatbot AI seperti ChatGPT agar kamu tetap aman.
Halo Berita
JAKARTA — Saat ini tampaknya kita selalu menanyakan banyak hal ke chatbot AI, salah satunya yang cukup populer adalah ChatGPT. Namun, sebelum kamu bertanya terlalu banyak, pastikan kamu mengingat bahwa AI benar-benar bukan temanmu dan tidak selalu bisa menjaga rahasia.
Bahaya menanyakan informasi yang sensitif ke chatbotAI bukan hanya soal informasi keliru yang mereka hasilkan, tapi juga kecenderungan kita untuk membagikan informasi kepada AI untuk mendapatkan jawaban atas persoalan hidup.
Oleh karena itu, sebelum kamu terlalu bergantung pada chatbot AI seperti ChatGPT, pastikan kamu tidak menanyakan beberapa hal berikut ini.
BACA JUGA: Waspada! Ini 3 Cara Penipu Manfaatkan Suaramu untuk Jaring Korban Scam AI Baru
Hal-hal yang Tidak Boleh Kamu Tanyakan ke ChatGPT
1. Informasi Kesehatan

Seperti yang dilansir dari Reader’s Digest, chatbot AI tidak tunduk pada aturan privasi medis seperti penyedia layanan kesehatan. Itu artinya, setiap informasi kesehatan yang kamu bagikan ke platform ChatGPT berpotensi jatuh ke tangan perusahaan asuransi, pengiklan, atau pihak lain yang dapat menggunakannya untuk berbagai kepentingan.
Selain itu, chatbot AI juga bisa memberikan diagnosis yang keliru. Sebuah penelitian acak pada Februari 2026 menemukan bahwa sedikit perubahan dalam cara pengguna menyampaikan pertanyaan dapat menghasilkan jawaban yang sangat berbeda. Hanya sekitar 34,5% LLM yang memberikan diagnosis yang benar dalam penelitian tersebut.
Bahkan, ada yang lebih mengkhawatirkan yaitu chatbot bisa memberikan saran kesehatan yang berbahaya. Meski jawabannya terdengar sangat meyakinkan, informasi dari AI tetap perlu diperiksa kembali melalui sumber medis yang terpercaya.
BACA JUGA: 5 Dampak Pembangunan Data Center untuk Warga di Sekitar, Kualitas Air Merosot!
2. Masalah Kesehatan Mental

Chatbot AI seperti ChatGPT memang bisa kamu gunakan untuk bertanya-tanya sedikit atau curhat, apalagi bagi kamu yang kesulitan mendapatkan akses ke psikolog atau terapis. Namun, AI tetap tidak dapat memberikan terapi dengan cara yang sama seperti tenaga profesional manusia.
Karena chatbot cenderung menyetujui dan memberikan respons yang mendukung pengguna, teknologi ini justru berpotensi memperburuk kondisi mental seseorang. Dalam beberapa kasus, respons AI bahkan dapat memperkuat pikiran atau perilaku yang tidak sehat.
3. Masalah Hukum

Percakapan yang kamu lakukan dengan chatbot AI juga tidak aman untuk membahas strategi hukum secara detail.
Jadi kalau kamu sedang menghadapi perceraian, sengketa hukum, atau persoalan lainnya, sebaiknya jangan memasukkan informasi mengenai kasus tersebut ke dalam chatbot.
Berbeda dengan komunikasi antara klien dan pengacara yang dilindungi oleh hak istimewa pengacara-klien (attorney-client privilege), percakapan dengan AI belum tentu mendapatkan perlindungan yang sama.
BACA JUGA: Cara Mudah Gunakan Claude AI untuk Bisnis, Jangan Takut Coba!
4. Aktivitas Ilegal

Kalau kamu berniat mencari informasi mengenai aktivitas ilegal, sebaiknya pikirkan kembali sebelum memasukkannya ke chatbot AI.
Dilansir dari Reader’s Digest, menggunakan AI untuk mempelajari cara melakukan tindak kriminal atau benar-benar melakukan kejahatan dilarang oleh ketentuan penggunaan berbagai layanan AI. Percakapan tersebut juga dapat diminta oleh aparat penegak hukum melalui proses hukum.
Namun, bagaimana kalau kamu mencari topik aktivitas ilegal ini untuk keperluan penelitian, misalnya ketika menulis artikel atau buku?
Dunia teknologi sempat ramai setelah pengujian internal menunjukkan bahwa model Claude 4 dari Anthropic dalam kondisi ekstrem dapat memberitahu pihak berwenang ketika mendeteksi dugaan pelanggaran. Anthropic sendiri menyatakan bahwa hal tersebut tidak terjadi dalam penggunaan normal.
Meski begitu, perusahaan AI pada umumnya dapat menyimpan percakapan pengguna dalam jangka waktu tertentu dan menggunakannya untuk memeriksa apakah pengguna mematuhi kebijakan layanan. Dalam kondisi tertentu, informasi tersebut juga dapat diberikan kepada aparat penegak hukum jika ada permintaan yang sah.
Jadi, rasa penasaranmu tetap perlu dikendalikan, sama seperti ketika menggunakan mesin pencari. Bahkan, sebelum marak penggunaan chatbot AI, mesin pencari juga dapat mendeteksi topik tertentu dari pencarian pengguna dan berpotensi membagikan data kepada aparat, regulator, atau media. Bedanya, AI dapat memberikan panduan yang lebih detail mengenai bagaimana melakukan suatu aktivitas yang mungkin melanggar hukum.
BACA JUGA: 7 Alasan Mengapa Kamu Tak Kunjung Diterima Kerja Menurut Hiring Manager
5. Teori Konspirasi

Sama seperti pencarian mengenai aktivitas ilegal, sekadar bertanya tentang teori konspirasi kemungkinan tidak akan langsung membuat kamu berurusan dengan pihak berwenang. Namun, hal tersebut bisa membawa Anda semakin jauh ke dalam informasi yang salah.
Seperti yang dilaporkan dari Reader’s Digest, menurut Dell, sebagian besar chatbot memiliki batasan untuk topik-topik kontroversial dan mungkin menolak menjawab pertanyaan tertentu. Namun, batasan tersebut terkadang dapat dilewati.
Jadi, saat hal itu terjadi, chatbot justru bisa memberikan respons yang terlalu mendukung dan memperkuat keyakinan atau pendapat pengguna.
Karena itu, jangan menjadikan chatbot AI sebagai satu-satunya sumber informasi, terutama ketika menyangkut kesehatan, kondisi mental, masalah hukum, aktivitas ilegal, atau informasi yang kontroversial. Selalu periksa kembali informasi penting melalui sumber terpercaya dan hindari membagikan data pribadi yang tidak perlu.
BACA JUGA: Rekomendasi Jurusan Kuliah Terbaik yang Relevan dengan AI
Itu tadi beberapa pertanyaan yang sebaiknya tidak kamu ajukan ke chatbot AI seperti chatGPT, hati-hati!
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh pada 24 Agt 2026
