Mahasiswa KKN UNS Ajak Ibu-ibu PKK Pacitan Belajar Digitalisasi Produk Kakao
Halo Berita

Mahasiswa KKN UNS Ajak Ibu-ibu PKK Pacitan Belajar Digitalisasi Produk Kakao

  • Ibu-ibu PKK Desa Jetis Kidul mengikuti sosialisasi digitalisasi produk kakao yang digelar mahasiswa KKN kelompok 190 Universitas Sebelas Maret (UNS), Rabu, 12 Agustus 2026.
Halo Berita
Justina Nur Landhiani

Justina Nur Landhiani

Author

JETIS KIDUL, ARJOSARI, PACITAN — Ibu-ibu PKK dari seluruh dusun di Desa Jetis Kidul mengikuti sosialisasi digitalisasi produk kakao yang digelar mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) kelompok 190 Universitas Sebelas Maret (UNS), Rabu, 12 Agustus 2026.

Kegiatan berlangsung di Balai Kemasyarakatan Desa Jetis Kidul dan mencakup dua materi utama, yaitu penguatan literasi digital, serta branding potensi produk kakao, dan penguatan pemasaran digital serta pembayaran digital.

Selama ini, kakao hasil panen warga Jetis Kidul hanya diual dalam bentuk biji kering kepada pengepul dengan harga yang ditentukan sepihak oleh pembeli, sehingga keuntungan yang diterima petani belum maksimal. 

Selain itu, terkait pemasaran produk pun masih terbatas di lingkungan sekitar, meski hampir seluruh warga telah memiliki telepon dan aktif menggunakan WhatsApp.

Ibu-ibu PKK dari seluruh dusun di Desa Jetis Kidul mengikuti sosialisasi digitalisasi produk kakao yang digelar mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) kelompok 190 Universitas Sebelas Maret (UNS), Rabu, 12 Agustus 2026.

BACA JUGA: KKN UNS Dorong Digitalisasi Data Kakao Jetis Kidul untuk Mudahkan Akses Bantuan

Di sisi lain, transaksi jual beli masih dilakukan secara tunai karena QRIS belum dikenal oleh pelaku usaha di desa.

Maka dari itu untuk menjawab kondisi tersebut, sesi pertama sosialisasi diisi dengan materi penguatan literasi digital dan branding produk, meliputi cara membuat identitas produk seperti nama, logo, dan kemasan agar kakao dapat dipasarkan lebih luas.

“Yang paling berkesan bagi kami adalah melihat ibu-ibu PKK mulai menyadari bahwa kakao yang selama ini dijual mentah ternyata bisa bernilai jauh lebih tinggi hanya dengan diberi nama, logo, dan kemasan.” ujar Naura sebagai salah satu penanggung jawab kegiatan.

Sesi berikutnya membahas penguatan pemasaran digital melalui whatsapp group, dilajutkan dengan edukasi pembayaran digital lewat QRIS.

Hasil nyata dari kegiatan ini antara lain sejumlah pelaku usaha berhasil menyelesaikan pendaftaran dan telah memiliki QRIS aktif, serta tersedianya contoh identitas produk kakao Desa Jetis Kidul berupa nama produk, dan kemasan sebagai acuan bagi masyarakat.

Senada dengan itu, Wira menambahkan bahwa potensi kakao di Desa Jetis Kidul sebenarnya sudah ada sejak lama “Potensi desanya sudah ada sejak lama, yang dibutuhkan hanya cara baru untuk mengemas dan memasarkannya,” katanya.